<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My NoBlog [Novel on Blog]</title>
	<atom:link href="http://handarusakti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://handarusakti.wordpress.com</link>
	<description>Novel Dariku</description>
	<lastBuildDate>Sun, 19 Jun 2011 06:38:06 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='handarusakti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>My NoBlog [Novel on Blog]</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://handarusakti.wordpress.com/osd.xml" title="My NoBlog [Novel on Blog]" />
	<atom:link rel='hub' href='http://handarusakti.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Telaga Kita</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2009/12/17/telaga-kita/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2009/12/17/telaga-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 02:12:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Telaga Kita Satu Dan daun rapuh itu luruh. Merelakan dirinya terjatuh untuk menghumus. Atau sekadar mengapung di atas telaga untuk kemudian tenggelam. Tentu kita tak bisa mengusik sekawanan lebah dengan rindu terpendam yang butuh pelampiasan. Mereka yang terlampau sibuk menari riang di antara mekar mewangi kembang-kembang liar di tepian danau syahdu ini. Juga pada sepasang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&amp;blog=1508088&amp;post=12&amp;subd=handarusakti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Satu</strong></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://roghuzshy.files.wordpress.com/2009/03/danau-bawah-gua-5.jpg"><img class="aligncenter" src="http://roghuzshy.files.wordpress.com/2009/03/danau-bawah-gua-5.jpg?w=440&#038;h=330" alt="" width="440" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan daun rapuh itu luruh. Merelakan dirinya terjatuh untuk menghumus. Atau sekadar mengapung di atas telaga untuk kemudian tenggelam. Tentu kita tak bisa mengusik sekawanan lebah dengan rindu terpendam yang butuh pelampiasan. Mereka yang terlampau sibuk menari riang di antara mekar mewangi kembang-kembang liar di tepian danau syahdu ini. Juga pada sepasang Kenari yang masyuk memadu kasih tak tersapih.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun kita masih bisa menyapa sejuk semilir angin pagi membentuk riak di permukaan danau. Menjatuhkan sebulir embun di atas daun Talas itu ke tanah. Sebentuk tentram danau di lembah sunyi yang terkepung hutan Cemara. Dimana kita sering berlarian di sela-selanya. Lalu berhenti sejenak untuk menghirup dalam-dalam kepolosannya. Di tepian telaga, kita duduk termenung menikmati segala berkah ini dengan memancing. Kamu terlampau larut dalam bait-bait syairmu. Hingga siang datang, kita membakar beberapa ikan yang tertangkap. Lalu kembali, aku meneruskan memancing dan kamu kembali hanyut dalam bait-bait puisimu, sampai senja menjelang. Dan selalu beginilah warna akhir pekan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Engkau adalah sahabat terbaik yang aku punya. Bersamamu kita tumbuh bersama melalui masa menjelang dewasa. SMP dan SMA, kita bukan saja selalu sebangku, namun selalu sehati. Melakoni semua suka dan duka. Menikmati telaga kita…hingga kita harus berpisah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi selanjutnya. Engkau ke Stanford University, ke negeri impian para pengagung kebebasan. Namun justru dari sanalah engkau semakin memupuk kebencianmu pada adi daya congkak itu. Sang penindas saudara-saudara kita di banyak belahan dunia ketiga. Biang teroris yang sebenarnya, pembuat pranata dunia yang timpang, jauh dari prinsip-prinsip keadilan. Engkau semakin dekat dengan ajaran agama versi kelompokmu. Tapi sayang, engkau terlampau apa adanya. Menelan segalanya tanpa sempat mencerna.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tertegun ketika membaca email terakhirmu. Kamu yang rindu telaga kita, yang ingin mereguk semua damai yang tercipta seperti yang biasa kita lakukan dulu. Abadi dan tak perlu berhenti walau sesaat pun. Bersama para istri bidadarimu. Taman surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan…hari ini aku medapati kabar tentang engkau yang terlibat aksi pengeboman di hiruk-pikuk New York. Dan aku membatu di tepian telaga kita. Dengan secarik surat yang kau kirim via pos. Tentang pamitan-mu padaku serta semua keluarga dan teman di sini. Agaknya kamu telah memperhitungkan segalanya, mulai terendusnya dirimu sebagai ‘fundamentalis’ oleh agen-agen federal Amerika. Dan bahwa ketika surat ini sampai padaku, kamu mengira telah berada di telagamu bersama istri-istri bidadari dambaanmu. Engkau berkata menungguku di sana. Andai engkau bisa mendengarku, aku hanya mau katakan kalau saat ini berharap engkau ada di sini, di sisiku, di tepian telaga kita. Menikmati ceria musim semi kali ini, kawan!</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Dua</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Engkau pasti menyematkan seribu satu prasangka padaku. Tentang sebentuk kebodohan dan gelap mata. Perihal ketidaktahuanku akan jurang menganga di depan sana. Yang bukan saja akan melumatku, namun juga tak tersadarnya diriku akan bahaya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Engkau mungkin juga menyangka aku tak jua matang dalam menimbang. Tak kuasa meredakan hasrat dengan kemurnian akal sehat. Menjalani hidup tak hanya berbekal semangat, tapi juga hikmat. Dan di sini, gelora api itu semakin berkobar seperti sepercik api yang menari di ladang penuh jerami kering di kerontangnya kemarau yang terlampau parau.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan berita itu tentu telah sampai padamu. Disebar semua kantor berita dunia. Seorang mahasiswa Indonesia di Jurusan Computer Science Stanford University melakukan bom bunuh diri di kawasan Time Square. Ketika sore menjelang dan para pekerja urban berbondong pulang. Sebuah aksi biadab yang berlindung di balik tirai mulia agama yang semestinya beradab.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika engkau usai membaca headline detik.com, email dan suratku, pasti engkau akan mengaitkan ketiganya. Bahwa berita itu benar adanya. Aku yang rindu telaga kita dan berharap menjumpainya lagi nanti di surga. Dan kemudian nekat melakukan itu semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu jam sudah aku termenung menatap kosong sepasang capung yang bercengkrama di antara semak air liar di bawah Gapstow Bridge. Central Park memang indah, namun tak seindah telaga kita. Dan aku begitu lelah dengan pelarian ini. Tercebur dan tersedot pusaran konspirasi Yahudi.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah tak perduli lagi, aku tak mau lagi tersengal himpitan kekhawatiran. Saat ini, aku hanya ingin setengah jam lagi menikmati autumn yang syahdu taman ini dan membayangkan sedang merangkai bait demi bait puisi sambil menunggu tangkapan ikan dari kailmu, sebentuk berkah yang telaga berikan untuk kita. Dan sebait syair tanpa sadar selesai tersusun di secarik kertas. Aku lipat dan kusimpan dalam saku kemejaku.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Tiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bangkit dari kubur kutelusuri tepian danau eksotis ini. Hutan lebat tanah Papua membuatnya nyaris tak terjamah. Kemolekan murni berbalut misteri. Tak butuh nama indah untuk menyatakan keelokannya. Bahkan tak butuh aku yang mengaguminya untuk segala sensasi manakjubkan kreasi alam ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ada sebuah sungai mengalir di bawahnya, bukan di samping atau atasnya. Agaknya sungai dan danau ini memiliki mata airnya sendiri-sendiri. Dengan ikan-ikan yang belum pernah aku jumpai, hilir-mudik di bening airnya. Pohon-pohon raksasa tua mengalirkan rembesan air di akar-akarnya yang gagah. Hamparan lumut tipis bak permadani menghijau. Kantong Semar bertebaran dimana-mana. Melumat serangga apa saja yang menghampiri. Dan beberapa jenis tumbuhan paku memamerkan keeksotisannya. Berkas-berkas sinar mentari pagi menerobos sela-sela dahan dan ranting, membuat segalanya nampak sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesatuan kami yang porak-poranda dalam penyergapan gerakan separatis. Gulita malam di belantara rimba Papua dan sambutan tak terduga mereka, telah membuat kami tunggang-langgang tak karuan. Sebuah kepungan mematikan. Hanya satu perintah komandan, selamatkan diri dan sedapat mungkin kembali ke markas. Kami yang merupakan regu pasukan khusus pun dibuatnya terhenyak. Beberapa teman terlihat sekilas tertembak. Semuanya terjadi begitu cepat. Rentetan senjata otomatis menyalak membelah sunyinya malam dalam rintik hujan tanpa henti. Dan ketika semua berhenti, semuanya lenyap begitu saja. Seperti tertelan tebing-tebing curam pegunungan ini. Tanpa bintang, apalagi rembulan. Mendung dan tebalnya kabut membutakan pandangan. Jangankan jalan setapak, telapak tangan sendiri di depan mata saja tak bisa terkenali. Yang masih teringat adalah saat-saat terakhir sebelum aku yang terperosok ke hulu sebuah sungai yang tidak begitu deras arusnya. Kepala menghantam batu besar hingga tak sadarkan diri. Dan pagi ini aku terbangun di tepian sebuah sungai dengan talaga misteri di atasnya, bukan di samping atau di bawahnya.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Empat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Dhabi, sebuah ikon modernisasi tanpa isi. Kecongkakan dalam balutan kemewahan yang bisa diupayakan manusia. Alasan untuk bisa hidup lebih baik telah berubah menjadi kegilaan hasrat duniawi. Berkah minyak itu telah merubah segalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, di rindang kebun buatan belakang sebuah vila pembesar kerajaan, aku bersembunyi. Menunggu lengahnya para penjaga atas keselamatan tuannya. Masuk sebagai tukang kebun, seorang pekerja ilegal dari Indonesia, sebauh negeri yang seharusnya bisa lebih kaya dari sekedar Uni Emirat Arab ini. Danau besar buatan itu laksana oase di tengah-tengah hamparan gurun pasir tak bertepi. Tapi tak ada kawanan pedagang berkendara onta yang singgah di sini. Taman ini adalah firdaus hanya bagi yang empunya dan tamu-tamunya. Berpesta pora dengan segenap gemerlap dan kelimpahan. Aneka hidangan tersaji dengan lebih banyak yang terbuang daripada yang dimakan, gadis-gadis penghibur dari segenap penjuru dunia, pengenaan pakaian dan perhiasan, tak ketinggalan aneka tunggangan: mobil termewah yang pernah dibuat, kapal pesiar hingga jet pribadi yang selalu siap di hanggar terpesan. Pamer kekayaan yang tak ketulungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yup, dia beranjak tidur siang…dan para bodyguard-nya mulai melonggarkan penjagaan, mereka tak tahu kalau si tukang kebun masih di dalam area vila tuannya. Sejenak aku raba kembali pistol dengan peredam di balik lipatan bajuku. Orang ini, atau lebih tepatnya jenderal ini harus mati, dialah yang harus bertanggung jawab atas pembantaian seminggu yang lalu. Pada beberapa ratus orang yang menolak pindah dari tanah leluhurnya, yang di bawahnya terkandung berjuta barrel minyak bumi. Dan ini masih sekedar satu diantara banyak kekejaman yang telah dia torehkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semilir angin gurun membentuk riak kecil di telaga itu. Mengayunkan dedaunan rindang tanaman di sekitarnya. Merayu setiap kantuk yang ada untuk semakin dalam menghampiri dunia mimpi. Tak terkecuali para penjaga yang kelelahan karena beberapa hari ini harus mengawal sang jenderal mendalangi aksi brutal tak manusiawi. Dan saat itulah waktunya aku beraksi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Lima</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta, Mei 1998, amuk massa di mana-mana. Gelombang demonstrasi bak air bah yang tumpah-ruah dengan luapan segenap kecewa dan marah. Terhadap lengah dan pongah penguasa. Hanya satu suara: sang diktaktor harus turun atau diturunkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, di depan Gedung DPR/MPR Senayan, segenap ketegangan itu membayang. Desas-desus ulangan tragedi Lapangan Tiananmen berseliweran seperti hantu gentayangan. Bahwa ada kemungkinan frustasi mempertahankan kekuasaan, Soeharto akan melibas mahasiswa. Dan sasaran utamanya adalah mereka yang berkumpul di rumah rakyat ini, setelah aksi di Monas urung diadakan. Akankah Soeharto mempertahankan kekuasaannya dengan lumuran darah, seperti ketika dia naik? Ataukah mahasiswa mampu memaksanya turun tahta yang sebelumnya justru mendudukkannya sebagai penguasa menggulingkan Soekarno?</p>
<p style="text-align:justify;">Kamis, 21 Mei 1998, sang penguasa kelelahan itu mundur. Sorak-sorai membahana. Tak sedikit dari para mahasiswa itu yang menitikkan air mata. Segala lelah dan kecamuk ketegangan itu berubah dengan suka cita akan hadirnya era baru di depan mata. Bangga akan upaya yang tak sia-sia. Sekali lagi, lembaran sejarah baru ditorehkan oleh pemuda anak kandung ibu pertiwi.</p>
<p style="text-align:justify;">Trenyuh ini pun tak kuasa lagi membendung lelehan butiran air mata. Ketika para mahasiswa itu berhamburan menceburkan diri di kolam depan Gedung Nusantara. Memanjat patung komtemporer karya But Mochtar. Tak puas dengan itu semua, ramai-ramai para demonstran itu menaiki atap Gedung Nusantara. Mengibarkan sang merah putih dengan segenap rasa yang bergejolak di dada. Syukurlah, kolam itu tak merah oleh darah. Walau kolam itu bukan telaga kita yang indah dengan ikan-ikan hilir-mudik di dalamnya, namun aku tetap tak rela jika dia terlumuri darah tertumpah putra bangsa tercinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Setangkai mawar kupetik dari taman bunga depan Gudung Nusantara. Dan aku mulai beringsut keluar dari kerumunan untuk segera melapor ke markas. Berbekal jas almamater salah satu perguruan tinggi negeri, aku yang adalah prajurit pasukan khusus, menyusup ke tengah-tengah para demonstran. Dalam hati aku berkata, “Kita satu perjuangan, kawan! bahwa negeri ini harus dijaga. Semoga kelak pemimpin negeri yang kalian angkat adalah pemimpin negeri sejati, dan kalian tak sekedar sedang mengulang sejarah, menggulingkan suatu rezim untuk digantikan penguasa lalim berikutnya.”</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Enam</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pagi pun masih enggan berlalu, dalam gerimis engkau memasakku ke danau kita dengan sebatang Kenanga dalam pot. “Entar aja, nanti bapak marah!” gumamku. Tak kau indahkan, kau tarik lengan tanganku. Sekilas aku menatap seraut wajah yang diselimuti duka yang mendalam. Bukan wajah marah dalam ketegasan dan kedisiplinan. “Kenapa bapak tak marah dan melarang kami, seperti biasanya kala kami tanpa minta ijin beliau untuk berhujan-hujan ria? Kalau pun kakak meminta ijin, tentu beliau tak akan mengijinkannya. Sebab Minggu pagi ini mendung dengan hawa dingin yang menusuk tulang.”</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lenyap keherananku itu, kau telah memaksaku berlarian mengejarmu. Tanpa payung maupun jas hujan. Dan danau yang biasanya indah itu nampak murung berselimut kabut tebal. Siluet deretan Cemara sekilas seperti kelebatan bayangan hantu penasaran penunggu hutan. Sejenak bulu kudukku terkesiap. Tiba-tiba aku merasa berada di dunia lain. Dunia penuh misteri dan mistis menyengat. Bahkan aku sempat membayangkan dari tengah-tengah telaga muncul pusaran air, lalu keluarlah seorang ratu cantik beraut pucat dan berjalan di atas air menghampiri kami. Imajinasiku berlompatan tak jelas ke alam arwah dengan wangi dupa semerbak memenuhi atmosfer, menggulung jiwa mana saja yang lemah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hei…kamu ngapain?” tanyaku. “Aku ingin menanam Kenanga ini di sini,” jawabmu sambil menggali tanah subur di dekat batu besar di tepi telaga yang biasanya kamu gunakan untuk pijakan memancing. “Untuk apa? ahh…sudahlah…buruan. Aneh-aneh saja!” gerutuku. ”Pagi ini hujan, jadi Kenanga ini pasti akan tumbuh rimbun.” Sejurus kemudian, dengan seulas senyum mengambang di bibir, engkau berbisik lirih di telingaku, “Kalau aku mati duluan, kubur aku di dekat Kenanga ini, ya?” Sontak aku terperanjak, apalagi dengan semua lamunan mistik yang tadi menyergapku. Belum sempat aku jenak mengunyah semua tingkah tak wajarmu, engkau kembali menarik lengan tanganku, “Ayo pulang, ibu tadi memasak sup ayam dan bilang supaya kita jangan lama-lama di danau!” “Hah? ibu juga tahu dan mengijinkan?” tanyaku dan kembali tak kau indahkan.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Tujuh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Letih, itulah yang menggerayangi segenap relung jiwa. Termenung aku di tengah-tengah danau Lagunata, di atas perahu kayu kecil, di kompleks Stanford University, SF Bay area, California. Ingin rasanya aku tenggelamkan semua risau itu di dasar danau ini. Dan membiarkannya membusuk di sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Walau aku telah diyakinkan oleh penyeliaku kalau di samping karena musuh negara, pembesar kerajaan Uni Emirat Arab yang baru saja aku bunuh kemarin adalah benar-benar orang jahat yang memang pantas mati atas segala dosa-dosanya, aku tetap mendekap rasa tak nyaman. Sudah bukan lagi rahasia kalau Amerika Serikat menghabisi musuh-musuhnya dengan tangan agen-agen rahasianya, tentu pertimbangannya bukan saja demi rasa kemanusian atau kebenaran, melainkan selalu saja atas nama demi kemanan nasional. Bahkan alasan lebih naif dari itu seringkali yang menjadi dasar sebenarnya operasi intelijen ini: kepentingan ekonomi. Baiklah, lebih tepatnya adalah penguasaan atas ladang-ladang minyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan operasi ini adalah “operasi suksesku” yang kelima. Tapi tetap saja, gelisah itu masih saja membayang. Penyeliaku bilang kalau operasi kelima ini adalah operasi terakhirku sebagai agen percobaan CIA. Setelah ini, aku tinggal menyelesaikan studiku di Jurusan Computer Science, Stanford University ini lalu kembali ke Indonesia dan posisi penting di BIN telah menunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumor yang beredar di universitas ini, ada banyak mahasiswa yang sebenarnya juga merupakan agen rahasia. Yang pasti, aku mengenali dua di antaranya yang sempat menjadi backup-ku untuk operasi penangkapan beberapa tokoh muslim yang diduga CIA terlibat dalam tragedi 9/11. Aku yang muslim dari Indonesia sangat mudah disusupkan ke komunitas mereka. Hal ini tak mengherankan, karena di sini banyak bertebaran otak cerdas dunia yang sedang menuntut ilmu. Dunia intelijen modern dengan kompleksitas intrik yang ada dan lompatan teknologi tinggi yang terlibat, maka kebutuhan akan agen-agen dengan otak encer lebih dibutuhkan daripada sekedar kemampuan operasi fisik semata.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah gundah itu mulai luruh, perlahan aku dayung perahu kecil ini ke tepian. Bersama sang surya yang mulai mangkir dan memamerkan kilau keemasannya di senja yang terakhir.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Delapan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anak-anak berlompatan ke danau itu dengan cerianya. Bermain dan bercengkrama menghabiskan senja. Sebentuk keriangan desa terpencil nan terkucil. Aku mengamati mereka dengan kepala suku duduk di sampingku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mereka melakukannya hampir setiap sore menjelang, saya pun melakukannya ketika seumuran mereka. Bapak saya juga melakukannya. Hiburan yang diberikan alam dengan cuma-cuma. Dan kami berterima kasih untuk itu semua,” ucap sang kepala suku, satu-satunya orang yang bisa berbahasa Indonesia di desa ini. “Tak ada radio, televisi apalagi video game, tapi sepertinya kami tak butuh itu semua,” sambungnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku hanya mengangguk. Sejurus kemudian, aku memberanikan diri menanyakan sikapnya atas gerakan OPM. “Mas kan dari Jawa dan mas juga seorang anggota Kopassus, pasti telah didoktrin bahwa NKRI adalah harga mati. Ketahuilah mas, bergabungnya dulu Irian Jaya ke pangkuan ibu Pertiwi adalah kemauan kami sendiri yang tak mau lagi dijajah kolonial Belanda. Kami ingin bergabung dengan saudara-saudara kami yang lainnya. Sampeyan juga pasti menduga kalau kami anti orang Jawa…padahal tidak demikian, kami bisa menerima transmigrasi dari Jawa. Yang kami sesalkan adalah ketidakadilan yang kemudian terjadi. Eksplorasi alam kami dengan semena-mena serta semua tindakan tak adil lainnya yang mengikutilah yang menyebabkan kami berfikir ulang atas semua yang telah terjadi,” papar sang kepala suku yang membuatku sempat terhenyak, bukan saja karena dia memanggilku dengan kata sampeyan, namun juga atas pemahamannya yang mendalam. Dia adalah kepala suku berpendidikan, lulusan perguruan tinggi negeri di Jakarta. Banyak posisi penting yang seharusnya bisa dia dapatkan, namun dia memilih kembali ke sini, ke desanya yang terpencil, bersama sanak-saudara menjaga tradisi para tetua.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sebenarnya ingin berlama-lama di desa damai penuh keramahan ini. Namun aku harus segera melapor ke markas dan ingin mengetahui rekan-rekan yang selamat dalam penyergapan gagal yang kami lakukan dua hari yang lalu. Seharian kemarin aku berjalan meninggalkan telaga yang di bawahnya mengalir sungai di atas gunung sana. Hingga siang tadi saya sampai ke desa damai ini. Walau di kaki gunung, desa ini masih jauh dari keramian.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, telaga yang sampeyan jumpai kemarin itu memang indah. Di antara semua danau yang ada di Papua ini, menurut saya dia yang memang terelok,” ujar kepala suku ketika pandanganku tanpa sengaja megarah ke telaga di atas gunung itu. “Iya pak, seperti surga di bumi,” jawabku menimpali. “Pak saya…” “Iya, saya mengerti, besok pagi-pagi sekali saya antarkan sampeyan ke pos TNI terdekat, tapi malam ini istirahatlah sejenak di desa kami ini. Istri saya berencana memanggang beberapa ekor burung hutan hasil buruan anak laki-laki tertua saja siang tadi dan akan sangat nikmat bila kita santap bersama ikan tangkapan saya ini, Mas,” sergah sang kepala suku yang sepertinya bisa membaca pikiranku.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Sembilan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Wajahnya putih bersih. Pembawaannya tenang, seteduh dan damai telaga kita. Perawakannya sedang-sedang saja, namun atletis. Dia berjenggot, namun tipis dan rapi serasi dengan kumisnya. Usianya juga baru empat puluh tahun. Dia adalah seorang ulama keturunan Turki yang begitu dihormati dalam komunitas Muslim di New York. Jangan bayangkan penampilan umumnya ulama, jubah panjang lengkap dengan surbannya, pakaian yang beliau gemari justru celana jeans berpadu kemeja lengan pendek warna terang. Kewibawaan dalam kesederhanaan adalah tafsiran tawadu’ yang melekat di diri beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah seorang guru sekolah menengah di pinggiran New York yang megah. Tapi tahukah kamu kalau beliau adalah alumnus perang Afghanistan. Bersama mujahid dari seluruh penjuru dunia, beliau bahu membahu menjatuhkan rezim boneka Uni Soviet. Hingga kemudian Uni Soviet menarik diri dari Afghanistan dan berdampak pada bangkrutnya sang adi daya hingga tercerai-berai seperti saat ini. Lalu datanglah kekacauan politik di Afghanistan yang diperparah dengan kemunculan milisi kuat yang sebelumnya tak terduga: Taliban yang konon binaan Amerika Serikat. Selebihnya kamu telah paham kisah menyanyat hati yang tak kujung usai di negeri saudara-saudara kita, para penakluk pegunungan cadas di Asia Tengah itu. Tersiar kabar kalau beliau pernah menyerang sendirian satu peleton tentara Kremlin yang sedang berpatroli dan menewaskan semuanya tanpa sisa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan semua reputasinya itu, sangat wajar kalau CIA menjadikannya target operasi terorisme selepas tragedi 9/11. Dan aku disusupka sebagai jamaah masjid dimana beliau adalah imam besarnya adalah dalam rangkaian operasi intelejen CIA ini. Dalam suatu perbincangan santai antara kami berdua selepas sholat Ashar, beliau pernah menyampaikan ketidaksetujuannya atas aksi September kelabu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu saat, aku dan beliau berbicang santai di serambi masjid dengan kolam luas di depannya, aku bertanya, “Ustadz, mengapa Islam terkadang terlalu memperhatikan sebuah amalan walau menurut saya itu tak lebih dari hal sepele saja?” Beliau mengambil sebongkah batu dan dilemparkannya sebongkah batu itu ke kolam. Sejurus kemudian, beliau melakukan hal yang sama dengan sebuah kerikil kecil. Kemudian beliau berkata, “Ketahuilah saudaraku, kita sungguh tak perlu risau dengan sebera besar peranan kita dalam menegakkan kebaikan, yang seharusnya lebih kita cemaskan adalah apakah kita bisa memastikan kalau amalan kita itu benar-benar dalam kebaikan, seperti batu dan kerikil itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Terkesima aku dibuatnya. Dan jauh di lubuk hatiku, aku memastikan kalau orang dengan kedalaman dan kelembutan pemahaman seperti ini, tak akan mungkin terlibat dalam aksi-aksi terorisme kalang-kabut seperti yang banyak terjadi. Tapi penyeliaku di CIA berpadangan lain…dan akhirnya CIA menyiduk beliau untuk diinterogasi di bawah Undang-undang Kemanan Nasional. Dan semua kejadian itu membuatku diam-diam justru berempati pada para ulama yang disangka teroris oleh CIA, FBI, NSA dan agensi-agensi semacamnya. Dari berbagi sumber yang bisa aku dapat, aku mulai berusaha mendapatkan pemahaman yang sebenarnya akan makna jihad yang sebenarnya dalam Islam. Suasana semi musim ini, agaknya juga terjadi dalam hati dan jiwaku, yang mulai tertuntun hakekat hidayah, padahal kita telah memeluk Islam semenjak kita lahir. Dan aku ingin membaginya bersamamu, saudaraku.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Sepuluh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti dedaunan yang berjatuhan, asaku luruh satu demi satu. Segenap kenangan berkelebatan lalu lenyap menghilang. Terhuyung aku berlari semakin ke area dalam Central Park yang nyaris tak pernah dikunjungi orang. Dengan sebutir peluru yang yang menghunjam dada sebelah kiri. Darah segar meleleh di sela-sela jemari tanganku yang mendekapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kakak, aku rindu padamu,” tak kuasa lagi aku memendung air mata kerinduan ini. Meleleh seakan berlomba dengan darah yang membasahi dadaku. “Tapi jangan kawatir, sebentar lagi aku menyusulmu, Kak.” Engkau yang harus pergi ketika masih sangat belia. Tak sempat mewujudkan mimpimu. Ketika kanker otak itu memaksamu untuk menyerah. Bukan saja mimpimu yang runtuh, tapi juga angan Ayah. Beliau yang sangat berharap salah satu anak lelakinya meneruskan garis pengabdiannya pada negeri dengan menjadi tentara. Semenjak engkau pergi meninggalkan kami, hanya sendu yang menggelayut di wajahnya yang teduh. Sementara ibu tak lebih baik dari itu. Sejak saat itu aku bersumpah untuk mewujudkan mimpimu sekaligus harapan Ayah. Selepas SMA aku mendaftar ke TNI Angkatan Darat. Dan aku diterima di Kopasssus. Dan ketika pulang, aku menyaksikan wajah Ayah yang sedikit berbinar sejenak, sejurus kemudian bulir air matanya deras mengalir dan memelukku erat-erat. Dan aku menyaksikan ibu jatuh tersungkur dengan tangis tak tertahan menyaksikan itu semua. Baru kemudian aku tahu, kalau bukan itu yang sebenarnya Ayah inginkan. Beliau hanya sangat mendukung cita-citamu dan bangga karena engkau berniat menelusuri kembali jejaknya. Dan bukan aku yang memaksakan diri menjadi tentara. Sementara aku abai atas cita-citaku sendiri. Tak seharusnya aku menggantikan peranmu, karena menurut Ayah, itu hanya berakibat hilangnya anak lelakinya yang lain, diriku. Namun demikian beliau berkata, “Aku bangga padamu, nak. Walau tak semestinya seperti ini. Maafkan Ayah yang tak bisa menjaga kakakmu dan tanpa sadar telah memaksamu menjadi dirinya dan tak sempat menjadi dirimu sendiri. Maafkan Ayah, nak!” Kembali bulir-bulir bening itu keluar dari sudut matanya yang keriput. Sedangkan ibu hanya terdiam dalam kelam tanpa suara dan air mata lagi. Cepat-cepat aku merangkul untuk kemudian bersimpuh di pangkuannya. Beliau tetap diam dan tangannya mengelus kepalaku seperti yang biasa beliau lakukan pada kita berdua dulu ketika kita merajuk manja di pangkuannya yang damai.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah pendidikan di Kopassus, aku dikirim ke Papaua. Di sana, seluruh reguku gugur dalam sebuah upaya penyergapan yang gagal. Hanya aku seorang yang selamat. Untuk meredam kemungkinan tekanan jiwa yang menghadangku, dikirimlah aku kembali ke Cijantung untuk sementara waktu. Dan kemudian meletuslah tragedi Mei kelabu itu. Kopassus ikut tersangkut dengan oparasi Grup Mawar yang secara misterius menculik para aktifis pro reformasi kala itu. Oleh komandan, aku disusupkan ke kerumunan mahasiswa yang mengepung Gedung DPR/MPR RI dalam koordinasi BIN. Kelihaianku dalam operasi intelijen telah menarik minat Kepala BIN dan meminta Kopassus melepaskanku dan bergabung ke BIN. Maka serangkaian operasi intelijen aku jalani. Dan kembali aku menuai banyak prestasi, namun semuanya harus dirahasikan, termasuk dari Ayah dan Ibu. Yang beliau berdua tahu adalah bahwa anaknya ini adalah tentara, itu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika BIN ada kerjasama pertukaran agen rahasia dengan CIA, aku adalah satu di antara lima agen dari BIN. Untuk pengkelabuhan, aku diminta CIA mendaftarkan diri ke Stanford University, dan ternyata aku bisa diterima di Departemen Computer Science. Dalam hati aku bergumam kalau inilah saatnya bagiku untuk sekali mendayung, dua pulau terlampaui: belajar ilmu komputer yang sejak dulu aku dambakan dan tetap menjadi ‘tentara’. Akibatnya, di samping serangkaian tugas belajar, aku juga melakukan serangkaian pelatihan dan operasi intelijen dalam koordinasi CIA. Walau berat, semua bisa aku jalanai dengan sangat baik. Hingga saat itu tiba. Selepas tragedi 9/11 operasi-operasi intelijen CIA mulai diarahkan pada operasi kontra-teror, yang artinya perburauan teroris dimana saja. Asal ada indikasi atau sekedar dicurigai, maka tangkap atau tumpas. Tak ada kompromi untuk menanggung risiko sedikit pun. Mantranya adalah kemanan nasional di atas segalanya. Bukan saja di dalam negeri Amerika Serikat, di negara mana pun bisa menjadi area operasi. Atas nama satu-satunya negara adidaya yang tersisa, Amerika sah melakukan apa saja. Dan untuk memperhalus itu semua, model kerjasama antara agen rahasia mereka gunakan sebagai sarana. Berlabel kerjasama internasional antiterorisme dan atau Interpol. Dan aku terlibat aktif di dalamnya. Melalui kamilah, bukan saja pertukaran informasi rahasia terjadi, tapi lebih jauh dari itu, sudah merupakan aksi intelijen ‘bersama’. Karena Amerika yang dominan, maka tentu saja kepentingan yang harus lebih diutamakan adalah kepentingan nasional Amerika. Sedangkan kepentingan nasional negara mitra, tak lebih sekedar pelangkap saja. Semua kekonyolan ini telah memaksaku berfikir ulang atas semua yang telah aku lakukan. Semakin aku terlibat dalam operasi-operasi penyusupan, penangkapan dan atau pembunuhan orang yang diduga CIA teroris, aku justru semakin menaruh simpati pada mereka. Pada keberpihakan mereka atas upaya menentang ketidakadilan Amerika yang dari waktu ke waktu semakin dalam cengkraman kepentingan korporasi dan lobi-lobi Yahudi. Aku semakin yakin kalau merekalah yang justru teroris sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan aku mulai merasa kalau penyeliaku di CIA mulai menaruh curiga padaku. Karenanya dia mulai berfikir untuk segera memulangkanku kembali ke Indonesia. Tapi peristiwa itu kembali terjadi, bom bunuh diri berkekuatan sangat besar meledak di sekitaran Time Square di jam sibuk. Ribuan orang tewas. Hingga seminggu pihak yang melakukannya tak tercium sama sekali oleh semua agen rahasia Amerika yang jumlahnya berderet itu. Sama sekali. Tekanan publik yang ingin mengetahui pihak yang melakukan pengeboman biadab dengan segera semakin membuat CIA frustasi. Pada semua pihak yang selama ini dicurigai melakukan aksi-aksi pengeboman, sama sekali tak ada indikasi kesana. Agaknya ini dilakukan oleh sel terorisme yang sama sekali baru. Di kalangan agen dan analis intelijen mengaitkan fenomena ini dengan kemunculan yang mengejutkan Taliban di Afghanistan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa sengaja aku tahu kalau CIA memutuskan harus ada yang dikorbankan. Semula aku menduga kalau salah satu kelompok teroris yang ada yang akan menjadi korban tuduhan tanpa dasar analisa, apalagi fakta nyata. Namun keberadaan residu bahan peledak dengan daya perusak yang begitu hebat dan hanya dimiliki oleh kalangan militer dan agen rahasia Amerika Serikat menimbulkan banyak spekulasi. Kalau bukan karena memang skenario pihak dalam untuk tujuan politik tertentu, bisa dipastikan kalau paling tidak ada pihak dalam yang terlibat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan aku tak menduga kalau aku yang dikorbankan. Sekarang aku diburu oleh segenap pihak yang berwajib di sini. Upaya pencegahan aku bisa keluar dari negeri Paman Sam ini semakin menyulitkan gerakku. Angan indah untuk segera bisa pulang ke Indonesia selepas kuliahku buyar sudah. Menceritakan kisah ini pada Ayah dan Ibu sirna sudah. Bahwa aku tak lagi aktif di Kopassus namun sudah ditempatkan di BIN dan bahkan lulus dari sebuah universitas ternama di dunia. Tentu hal ini akan diijinkan di Indonesia, tak seperti di Amerika yang agennya tak boleh menceritakan statusnya bahkan pada orang terdekatnya sekalipun. Padahal yang aku inginkan sekedar senyum manis mengambang di wajah Ayah dan Ibu. Dan bersimpuh di pusaramu. Bercengkrama denganmu seharian. Di bawah Kenanga yang tentu sekarang telah rimbun menemanimu. Ada sebuah puisi yang ingin kubacakan padamu. Sebuah puisi yang tertulis di atas secarik kertas terlipat di saku kiriku yang sekarang bersimbah darah. Yang barusan aku buat dengan maksud mengenangmu di sela-sela kegelisahanku sebagai ‘binatang buruan’. Sebelum sebutir peluru menembus dada kiriku. Dan pandanganku semakian tak jelas, tiba-tiba aku merasa kedinginan, Kakak! Tertegun aku melihatmu turun dari langit dan senyum manismu. Dengan lembut kau ulurkan tanganmu dan berkata, “Adikku, mari ikut denganku, telaga kita telah menanti. Tidak rindukah kau padanya? Mari adikku tersayang, kamu sudah berusaha apa yang kamu bisa. Aku bangga padamu.” “Bagaimana dengan Ayah dan Ibu, Kak?” tanyaku. “Jangan paksakan dirimu untuk bisa mengatasi segalanya, itu bukan kuasamu. Ayah dan Ibu pasti mengerti. Walau bersedih atas kepergian kita berdua, pasti beliau akan bisa menerimanya. Walau para musuh ALLAH itu melakukan tipu daya, Ayah dan Ibu pasti tahu kalau bukan kamu yang melakukannya. Karena tak harus dengan kata kita berucap dan tak harus dengan telinga kita mendengar. Sudahlah, kalau pun tidak di dunia, nanti di surga kamu bisa menceritakan yang sebenarnya kepada mereka. Sepulang aku memancing dan kamu menyelesaikan puisimu yang terakhir, mereka kan menyambut kita di pintu rumah abadi kita.” Aku pun tersenyum dan dengan ringan kugapai uluran tanganmu.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>T.A.M.A.T</strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&amp;blog=1508088&amp;post=12&amp;subd=handarusakti&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2009/12/17/telaga-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roghuzshy.files.wordpress.com/2009/03/danau-bawah-gua-5.jpg" medium="image" />
	</item>
	</channel>
</rss>
