<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>My NoBlog [Novel on Blog]</title>
	<atom:link href="http://handarusakti.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://handarusakti.wordpress.com</link>
	<description>Novel Dariku</description>
	<lastBuildDate>Thu, 17 Dec 2009 02:30:49 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='handarusakti.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/09332635cc94cc901d712c479eb15fdd?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>My NoBlog [Novel on Blog]</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://handarusakti.wordpress.com/osd.xml" title="My NoBlog [Novel on Blog]" />
		<item>
		<title>Telaga Kita</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2009/12/17/telaga-kita/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2009/12/17/telaga-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Dec 2009 02:12:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri]]></category>
		<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Telaga Kita Satu

Dan daun rapuh itu luruh. Merelakan dirinya terjatuh untuk menghumus. Atau sekadar mengapung di atas telaga untuk kemudian tenggelam. Tentu kita tak bisa mengusik sekawanan lebah dengan rindu terpendam yang butuh pelampiasan. Karena mereka terlampau sibuk menari riang di antara mekar mewangi kembang-kembang liar di tepian danau syahdu ini. Juga pada sepasang Kenari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=12&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Satu</strong></p>
<p style="text-align:center;"><a href="http://roghuzshy.files.wordpress.com/2009/03/danau-bawah-gua-5.jpg"><img class="aligncenter" src="http://roghuzshy.files.wordpress.com/2009/03/danau-bawah-gua-5.jpg?w=440&#038;h=330" alt="" width="440" height="330" /></a></p>
<p style="text-align:justify;">Dan daun rapuh itu luruh. Merelakan dirinya terjatuh untuk menghumus. Atau sekadar mengapung di atas telaga untuk kemudian tenggelam. Tentu kita tak bisa mengusik sekawanan lebah dengan rindu terpendam yang butuh pelampiasan. Karena mereka terlampau sibuk menari riang di antara mekar mewangi kembang-kembang liar di tepian danau syahdu ini. Juga pada sepasang Kenari yang masyuk memadu kasih tak tersapih.</p>
<p style="text-align:justify;">Namun kita masih bisa menyapa sejuk semilir angin pagi membentuk riak di permukaan danau. Menjatuhkan sebulir embun di atas daun Talas itu ke tanah. Sebentuk tentram danau di lembah sunyi yang terkepung hutan Cemara. Dimana kita sering berlarian di sela-selanya. Lalu berhenti sejenak untuk menghirup dalam-dalam kepolosannya. Dan kita berhenti di tepian telaga, aku duduk termenung menikmati segala berkah ini dengan memancing. Dan kamu terlampau larut dalam bait-bait syairmu. Hingga siang datang, kita membakar beberapa ikan yang tertangkap. Lalu kembali, aku meneruskan memancing dan kamu kembali hanyut dalam bait-bait puisimu, sampai senja menjelang. Dan selalu beginilah warna akhir pekan kita.</p>
<p style="text-align:justify;">Engkau adalah sahabat terbaik yang aku punya. Bersamamu kita tumbuh bersama melalui masa menjelang dewasa. SMP dan SMA, kita bukan saja selalu sebangku, namun selalu sehati. Melakoni suka dan duka bersama. Dan menikmati telaga kita…hingga kita harus berpisah untuk melanjutkan ke jenjang pendidikan tinggi selanjutnya. Engkau ke Stanford University, ke negeri impian para pengagung kebebasan. Namun justru dari sanalah engkau semakin memupuk kebencianmu pada adi daya congkak itu.  Sang penindas saudara-saudara kita di banyak belahan dunia ketiga. Biang teroris yang sebenarnya, pembuat pranata dunia yang timpang, jauh dari prinsip-prinsip keadilan. Dan engkau semakin dekat dengan ajaran agama versi kelompokmu. Tapi sayang, engkau terlampau apa adanya. Menelan segalanya tanpa sempat mencerna.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku tertegun ketika membaca email terakhirmu. Kamu yang rindu telaga kita, yang ingin mereguk semua damai yang tercipta seperti yang biasa kita lakukan dulu. Abadi dan tak perlu berhenti walau sesaat pun. Bersama para istri bidadarimu. Taman surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan…hari ini aku medapati kabar tentang engkau yang terlibat aksi pengeboman di hiruk-pikuk New York. Dan aku membatu di tepian telaga kita. Dengan secarik surat yang kau kirim via pos. Tentang pamitan-mu padaku serta semua keluarga dan teman di sini. Agaknya kamu telah memperhitungkan segalanya, mulai terendusnya dirimu sebagai ‘fundamentalis’ oleh agen-agen federal Amerika. Dan bahwa ketika surat ini sampai padaku, kamu mengira telah berada di telagamu bersama istri-istri bidadari dambaanmu. Dan engkau berkata menungguku di sana. Andai engkau bisa mendengarku, aku hanya mau katakan kalau saat ini berharap engkau ada di sini, di sisiku, di tepian telaga kita. Menikmati ceria musim semi kali ini, kawan!</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Dua</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Engkau pasti menyematkan seribu satu prasangka padaku. Tentang sebentuk kebodohan dan gelap mata. Perihal ketidaktahuanku akan jurang menganga di depan sana. Yang bukan saja akan melumatku, namun juga tak tersadarnya diriku akan bahaya itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Engkau mungkin juga menyangka aku tak jua matang dalam menimbang. Tak kuasa meredakan hasrat dengan kemurnian akal sehat.  Menjalani hidup tak hanya berbekal semangat, tapi juga hikmat. Dan di sini, gelora api itu semakin berkobar seperti sepercik api yang menari di ladang penuh jerami kering di kerontangnya kemarau yang terlampau parau.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan berita itu tentu telah sampai padamu. Disebar semua kantor berita dunia. Seorang mahasiswa Indonesia di Jurusan Computer Science Stanford University melakukan bom bunuh diri di kawasan Time Square.  Ketika sore menjelang dan para pekerja urban berbondong pulang. Sebuah aksi biadab yang berlindung di balik tirai mulia agama yang semestinya beradab.</p>
<p style="text-align:justify;">Jika engkau usai membaca headline detik.com, email dan suratku, pasti engkau akan mengaitkan ketiganya. Bahwa berita itu benar adanya. Aku yang rindu telaga kita dan berharap menjumpainya lagi nanti di surga. Dan kemudian nekat melakukan itu semua.</p>
<p style="text-align:justify;">Satu jam sudah aku termenung menatap kosong sepasang capung yang bercengkrama di antara semak air liar di bawah Gapstow Bridge. Central Park memang indah, namun tak seindah telaga kita. Dan aku begitu lelah dengan pelarian ini. Tercebur dan tersedot pusaran konspirasi Yahudi.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sudah tak perduli lagi, aku tak mau lagi tersengal himpitan kekhawatiran. Saat ini, aku hanya ingin setengah jam lagi menikmati autumn yang syahdu taman ini dan membayangkan sedang merangkai bait demi bait puisi sambil menunggu tangkapan ikan dari kailmu, sebentuk berkah yang telaga berikan untuk kita. Dan sebait syair tanpa sadar selesai tersusun di secarik kertas. Aku lipat dan kusimpan dalam saku kemejaku.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Tiga</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Bangkit dari kubur kutelusuri tepian danau eksotis ini. Hutan lebat tanah Papua membuatnya nyaris tak terjamah. Kemolekan murni berbalut misteri. Tak butuh nama indah untuk menyatakan keelokannya. Bahkan tak butuh aku yang mengaguminya untuk segala sensasi manakjubkan kreasi alam ini.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan ada sebuah sungai mengalir di bawahnya, bukan di samping atau atasnya. Agaknya sungai dan danau ini memiliki mata airnya sendiri-sendiri. Dengan ikan-ikan yang belum pernah aku jumpai, hilir-mudik di bening airnya. Pohon-pohon raksasa tua mengalirkan rembesan air di akar-akarnya yang gagah. Hamparan lumut tipis bak permadani menghijau. Kantong Semar bertebaran dimana-mana. Melumat serangga apa saja yang menghampiri. Dan beberapa jenis tumbuhan paku memamerkan keeksotisannya. Berkas-berkas sinar mentari pagi menerobos sela-sela dahan dan ranting, membuat segalanya nampak sempurna.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesatuan kami yang porak-poranda dalam penyergapan gerakan separatis. Gulita malam di belantara rimba Papua dan sambutan tak terduga mereka, telah membuat kami tunggang-langgang tak karuan. Sebuah kepungan mematikan. Hanya satu perintah komandan, selamatkan diri dan sedapat mungkin kembali ke markas. Kami yang merupakan regu pasukan khusus pun dibuatnya terhenyak. Beberapa teman terlihat sekilas tertembak. Semuanya terjadi begitu cepat. Rentetan senjata otomatis menyalak membelah sunyinya malam dalam rintik hujan tanpa henti. Dan ketika semua berhenti, semuanya lenyap begitu saja. Seperti tertelan tebing-tebing curam pegunungan ini. Tanpa bintang, apalagi rembulan. Mendung dan tebalnya kabut membutakan pandangan. Jangankan jalan setapak, telapak tangan sendiri di depan mata saja tak bisa terkenali.  Yang masih teringat adalah saat-saat terakhir sebelum aku yang terperosok ke hulu sebuah sungai yang tidak begitu deras arusnya. Kepala menghantam batu besar hingga tak sadarkan diri. Dan pagi ini aku terbangun di tepian sebuah sungai dengan talaga misteri di atasnya, bukan di samping atau di bawahnya.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Empat</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Abu Dhabi, sebuah ikon modernisasi tanpa isi. Kecongkakan dalam balutan kemewahan yang bisa diupayakan manusia. Alasan untuk bisa hidup lebih baik telah berubah menjadi kegilaan hasrat duniawi. Berkah minyak itu telah merubah segalanya.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, di rindang kebun buatan belakang sebuah vila pembesar kerajaan, aku bersembunyi. Menunggu lengahnya para penjaga atas keselamatan tuannya. Masuk sebagai tukang kebun, seorang pekerja ilegal dari Indonesia, sebauh negeri yang seharusnya bisa lebih kaya dari sekedar Uni Emirat Arab ini. Danau besar buatan itu laksana oase di tengah-tengah hamparan gurun pasir tak bertepi. Tapi tak ada kawanan pedagang berkendara onta yang singgah di sini. Taman ini adalah firdaus hanya bagi yang empunya dan tamu-tamunya. Berpesta pora dengan segenap gemerlap dan kelimpahan. Aneka hidangan tersaji dengan lebih banyak yang terbuang daripada yang dimakan, gadis-gadis penghibur dari segenap penjuru dunia, pengenaan pakaian dan perhiasan, tak ketinggalan aneka tunggangan: mobil termewah yang pernah dibuat, kapal pesiar hingga jet pribadi yang selalu siap di hanggar terpesan. Pamer kekayaan yang tak ketulungan.</p>
<p style="text-align:justify;">Yup, dia beranjak tidur siang…dan para bodyguard-nya mulai melonggarkan penjagaan, mereka tak tahu kalau si tukang kebun masih di dalam area vila tuannya. Sejenak aku raba kembali pistol dengan peredam di balik lipatan bajuku. Orang ini, atau lebih tepatnya jenderal ini harus mati, dialah yang harus bertanggung jawab atas pembantaian seminggu yang lalu. Pada beberapa ratus orang yang menolak pindah dari tanah leluhurnya, yang di bawahnya terkandung berjuta barrel minyak bumi. Dan ini masih sekedar satu diantara banyak kekejaman yang telah dia torehkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Semilir angin gurun membentuk riak kecil di telaga itu. Mengayunkan dedaunan rindang tanaman di sekitarnya. Merayu setiap kantuk yang ada untuk semakin dalam menghampiri dunia mimpi. Tak terkecuali para penjaga yang kelelahan karena beberapa hari ini harus mengawal sang jenderal mendalangi aksi brutal tak manusiawi. Dan saat itulah waktunya aku beraksi.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Lima</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Jakarta, Mei 1998, amuk massa di mana-mana. Gelombang demonstrasi bak air bah yang tumpah-ruah dengan luapan segenap kecewa dan marah. Terhadap lengah dan pongah penguasa. Hanya satu suara: sang diktaktor harus turun atau diturunkan.</p>
<p style="text-align:justify;">Di sini, di depan Gedung DPR/MPR Senayan, segenap ketegangan itu membayang. Desas-desus ulangan tragedi Lapangan Tiananmen berseliweran seperti hantu gentayangan. Bahwa ada kemungkinan frustasi mempertahankan kekuasaan, Soeharto akan melibas mahasiswa. Dan sasaran utamanya adalah mereka yang berkumpul di rumah rakyat ini, setelah aksi di Monas urung diadakan. Akankah Soeharto mempertahankan kekuasaannya dengan lumuran darah, seperti ketika dia naik? Ataukah mahasiswa mampu memaksanya turun tahta yang sebelumnya justru mendudukkannya sebagai penguasa menggulingkan Soekarno?</p>
<p style="text-align:justify;">Kamis, 21 Mei 1998, sang penguasa kelelahan itu mundur. Sorak-sorai membahana. Tak sedikit dari para mahasiswa itu yang menitikkan air mata. Segala lelah dan kecamuk ketegangan itu berubah dengan suka cita akan hadirnya era baru di depan mata. Bangga akan upaya yang tak sia-sia. Sekali lagi, lembaran sejarah baru ditorehkan oleh pemuda anak kandung ibu pertiwi.</p>
<p style="text-align:justify;">Trenyuh ini pun tak kuasa lagi membendung lelehan butiran air mata. Ketika para mahasiswa itu berhamburan menceburkan diri di kolam depan Gedung Nusantara. Memanjat patung komtemporer karya But Mochtar. Tak puas dengan itu semua, ramai-ramai para demonstran itu menaiki atap Gedung Nusantara. Mengibarkan sang merah putih dengan segenap rasa yang bergejolak di dada. Syukurlah, kolam itu tak merah oleh darah. Walau kolam itu bukan telaga kita yang indah dengan ikan-ikan hilir-mudik di dalamnya, namun aku tetap tak rela jika dia terlumuri darah tertumpah putra bangsa tercinta.</p>
<p style="text-align:justify;">Setangkai mawar kupetik dari taman bunga depan Gudung Nusantara. Dan aku mulai beringsut keluar dari kerumunan untuk segera melapor ke markas. Berbekal jas almamater salah satu perguruan tinggi negeri, aku yang adalah prajurit pasukan khusus, menyusup ke tengah-tengah para demonstran. Dalam hati aku berkata, “Kita satu perjuangan, kawan! bahwa negeri ini harus dijaga. Semoga kelak pemimpin negeri yang kalian angkat adalah pemimpin negeri sejati, dan kalian tak sekedar sedang mengulang sejarah, menggulingkan suatu rezim untuk digantikan penguasa lalim berikutnya.”</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Enam</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Pagi pun masih enggan berlalu, dalam gerimis engkau memasakku ke danau kita dengan sebatang Kenanga dalam pot. “Entar aja, nanti bapak marah!” gumamku. Tak kau indahkan, kau tarik lengan tanganku. Sekilas aku menatap seraut wajah yang diselimuti duka yang mendalam. Bukan wajah marah dalam ketegasan dan kedisiplinan. “Kenapa bapak tak marah dan melarang kami, seperti biasanya kala kami tanpa minta ijin beliau untuk berhujan-hujan ria? Kalau pun kakak meminta ijin, tentu beliau tak akan mengijinkannya. Sebab Minggu pagi ini mendung dengan hawa dingin yang menusuk tulang.”</p>
<p style="text-align:justify;">Belum lenyap keherananku itu, kau telah memaksaku berlarian mengejarmu. Tanpa payung maupun jas hujan. Dan danau yang biasanya indah itu nampak murung berselimut kabut tebal. Siluet deretan Cemara sekilas seperti kelebatan bayangan hantu penasaran penunggu hutan. Sejenak bulu kudukku terkesiap. Tiba-tiba aku merasa berada di dunia lain. Dunia penuh misteri dan mistis menyengat. Bahkan aku sempat membayangkan dari tengah-tengah telaga muncul pusaran air, lalu keluarlah seorang ratu cantik beraut pucat dan berjalan di atas air menghampiri kami. Imajinasiku berlompatan tak jelas ke alam arwah dengan wangi dupa semerbak memenuhi atmosfer, menggulung jiwa mana saja yang lemah.</p>
<p style="text-align:justify;">“Hei…kamu ngapain?” tanyaku. “Aku ingin menanam Kenanga ini di sini,” jawabmu sambil menggali tanah subur di dekat batu besar di tepi telaga yang biasanya kamu gunakan untuk pijakan memancing. “Untuk apa? ahh…sudahlah…buruan. Aneh-aneh saja!” gerutuku.  ”Pagi ini hujan, jadi Kenanga ini pasti akan tumbuh rimbun.” Sejurus kemudian, dengan seulas senyum mengambang di bibir, engkau berbisik lirih di telingaku, “Kalau aku mati duluan, kubur aku di dekat Kenanga ini, ya?” Sontak aku terperanjak, apalagi dengan semua lamunan mistik yang tadi menyergapku. Belum sempat aku jenak mengunyah semua tingkah tak wajarmu, engkau kembali menarik lengan tanganku, “Ayo pulang, ibu tadi memasak sup ayam dan bilang supaya kita jangan lama-lama di danau!” “Hah? ibu juga tahu dan mengijinkan?” tanyaku dan kembali tak kau indahkan.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Tujuh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Letih, itulah yang menggerayangi segenap relung jiwa. Termenung aku di tengah-tengah danau Lagunata, di atas perahu kayu kecil, di kompleks Stanford University, SF Bay area, California. Ingin rasanya aku tenggelamkan semua risau itu di dasar danau ini. Dan membiarkannya membusuk di sana.</p>
<p style="text-align:justify;">Walau aku telah diyakinkan oleh penyeliaku kalau di samping karena musuh negara, pembesar kerajaan Uni Emirat Arab yang baru saja aku bunuh kemarin adalah benar-benar orang jahat yang memang pantas mati atas segala dosa-dosanya, aku tetap mendekap rasa tak nyaman. Sudah bukan lagi rahasia kalau Amerika Serikat menghabisi musuh-musuhnya dengan tangan agen-agen rahasianya, tentu pertimbangannya bukan saja demi rasa kemanusian atau kebenaran, melainkan selalu saja atas nama demi kemanan nasional. Bahkan alasan lebih naif dari itu seringkali yang menjadi dasar sebenarnya operasi intelijen ini: kepentingan ekonomi. Baiklah, lebih tepatnya adalah penguasaan atas ladang-ladang minyak.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan operasi ini adalah “operasi suksesku” yang kelima. Tapi tetap saja, gelisah itu masih saja membayang. Penyeliaku bilang kalau operasi kelima ini adalah operasi terakhirku sebagai agen percobaan CIA. Setelah ini, aku tinggal menyelesaikan studiku di Jurusan Computer Science, Stanford University ini lalu kembali ke Indonesia dan posisi penting di BIN telah menunggu.</p>
<p style="text-align:justify;">Rumor yang beredar di universitas ini, ada banyak mahasiswa yang sebenarnya juga merupakan agen rahasia. Yang pasti, aku mengenali dua di antaranya yang sempat menjadi backup-ku untuk operasi penangkapan beberapa tokoh muslim yang diduga CIA terlibat dalam tragedi 9/11. Aku yang muslim dari Indonesia sangat mudah disusupkan ke komunitas mereka. Hal ini tak mengherankan, karena di sini banyak bertebaran otak cerdas dunia yang sedang menuntut ilmu. Dunia intelijen modern dengan kompleksitas intrik yang ada dan  lompatan teknologi tinggi yang terlibat, maka kebutuhan akan agen-agen dengan otak encer lebih dibutuhkan daripada sekedar kemampuan operasi fisik semata.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah gundah itu mulai luruh, perlahan aku dayung perahu kecil ini ke tepian. Bersama sang surya yang mulai mangkir dan memamerkan kilau keemasannya di senja yang terakhir.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Delapan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Anak-anak berlompatan ke danau itu dengan cerianya. Bermain dan bercengkrama menghabiskan senja. Sebentuk keriangan desa terpencil nan terkucil.  Aku mengamati mereka dengan kepala suku duduk di sampingku.</p>
<p style="text-align:justify;">“Mereka melakukannya hampir setiap sore menjelang, saya pun melakukannya ketika seumuran mereka. Bapak saya juga melakukannya. Hiburan yang diberikan alam dengan cuma-cuma. Dan kami berterima kasih untuk itu semua,” ucap sang kepala suku, satu-satunya orang yang bisa berbahasa Indonesia di desa ini. “Tak ada radio,  televisi apalagi video game, tapi sepertinya kami tak butuh itu semua,” sambungnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku hanya mengangguk. Sejurus kemudian, aku memberanikan diri menanyakan sikapnya atas gerakan OPM. “Mas kan dari Jawa dan mas juga seorang anggota Kopassus, pasti telah didoktrin bahwa NKRI adalah harga mati. Ketahuilah mas, bergabungnya dulu Irian Jaya ke pangkuan ibu Pertiwi adalah kemauan kami sendiri yang tak mau lagi dijajah kolonial Belanda. Kami ingin bergabung dengan saudara-saudara kami yang lainnya. Sampeyan juga pasti menduga kalau kami anti orang Jawa…padahal tidak demikian, kami bisa menerima transmigrasi dari Jawa. Yang kami sesalkan adalah ketidakadilan yang kemudian terjadi. Eksplorasi alam kami dengan semena-mena serta semua tindakan tak adil lainnya yang mengikutilah yang menyebabkan kami berfikir ulang atas semua yang telah terjadi,” papar sang kepala suku yang membuatku sempat terhenyak, bukan saja karena dia memanggilku dengan kata sampeyan, namun juga atas pemahamannya yang mendalam. Dia adalah kepala suku berpendidikan, lulusan perguruan tinggi negeri di Jakarta. Banyak posisi penting yang seharusnya bisa dia dapatkan, namun dia memilih kembali ke sini, ke desanya yang terpencil, bersama sanak-saudara menjaga tradisi para tetua.</p>
<p style="text-align:justify;">Aku sebenarnya ingin berlama-lama di desa damai penuh keramahan ini. Namun aku harus segera melapor ke markas dan ingin mengetahui rekan-rekan yang selamat dalam penyergapan gagal yang kami lakukan dua hari yang lalu. Seharian kemarin aku berjalan meninggalkan telaga yang di bawahnya mengalir sungai di atas gunung sana. Hingga siang tadi saya sampai ke desa damai ini. Walau di kaki gunung, desa ini masih jauh dari keramian.</p>
<p style="text-align:justify;">“Iya, telaga yang sampeyan jumpai kemarin itu memang indah. Di antara semua danau yang ada di Papua ini, menurut saya dia yang memang terelok,” ujar kepala suku ketika pandanganku tanpa sengaja megarah ke telaga di atas gunung itu. “Iya pak, seperti surga di bumi,” jawabku menimpali. “Pak saya…” “Iya, saya mengerti, besok pagi-pagi sekali saya antarkan sampeyan ke pos TNI terdekat, tapi malam ini istirahatlah sejenak di desa kami ini. Istri saya berencana memanggang beberapa ekor burung hutan hasil buruan anak laki-laki tertua saja siang tadi dan akan sangat nikmat bila kita santap bersama ikan tangkapan saya ini, Mas,” sergah sang kepala suku yang sepertinya bisa membaca pikiranku.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Sembilan</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Wajahnya putih bersih. Pembawaannya tenang, seteduh dan damai telaga kita. Perawakannya sedang-sedang saja, namun atletis. Dia berjenggot, namun tipis dan rapi serasi dengan kumisnya. Usianya juga baru empat puluh tahun. Dia adalah seorang ulama keturunan Turki yang begitu dihormati dalam komunitas Muslim di New York.  Jangan bayangkan penampilan umumnya ulama, jubah panjang lengkap dengan surbannya, pakaian yang beliau gemari justru celana jeans berpadu kemeja lengan pendek warna terang. Kewibawaan dalam kesederhanaan adalah tafsiran tawadu’ yang melekat di diri beliau.</p>
<p style="text-align:justify;">Beliau adalah seorang guru sekolah menengah di pinggiran New York yang megah. Tapi tahukah kamu kalau beliau adalah alumnus perang Afghanistan. Bersama mujahid dari seluruh penjuru dunia, beliau bahu membahu menjatuhkan rezim boneka Uni Soviet. Hingga kemudian Uni Soviet menarik diri dari Afghanistan dan berdampak pada bangkrutnya sang adi daya hingga tercerai-berai seperti saat ini. Lalu datanglah kekacauan politik di Afghanistan yang diperparah dengan kemunculan milisi kuat yang sebelumnya tak terduga: Taliban yang konon binaan Amerika Serikat. Selebihnya kamu telah paham kisah menyanyat hati yang tak kujung usai di negeri saudara-saudara kita, para penakluk pegunungan cadas di Asia Tengah itu. Tersiar kabar kalau beliau pernah menyerang sendirian satu peleton tentara Kremlin yang sedang berpatroli dan menewaskan semuanya tanpa sisa.</p>
<p style="text-align:justify;">Dengan semua reputasinya itu, sangat wajar kalau CIA menjadikannya target operasi terorisme selepas tragedi 9/11. Dan aku disusupka sebagai jamaah masjid dimana beliau adalah imam besarnya adalah dalam rangkaian operasi intelejen CIA ini. Dalam suatu perbincangan santai antara kami berdua selepas sholat Ashar, beliau pernah menyampaikan ketidaksetujuannya atas aksi September kelabu itu.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada suatu saat, aku dan beliau berbicang santai di serambi masjid dengan kolam luas di depannya, aku bertanya, “Ustadz, mengapa Islam terkadang terlalu memperhatikan sebuah amalan walau menurut saya itu tak lebih dari hal sepele saja?” Beliau mengambil sebongkah batu dan dilemparkannya sebongkah batu itu ke kolam. Sejurus kemudian, beliau melakukan hal yang sama dengan sebuah kerikil kecil. Kemudian beliau berkata, “Ketahuilah saudaraku, kita sungguh tak perlu risau dengan sebera besar peranan kita dalam menegakkan kebaikan, yang seharusnya lebih kita cemaskan adalah apakah kita bisa memastikan kalau amalan kita itu benar-benar dalam kebaikan, seperti batu dan kerikil itu.”</p>
<p style="text-align:justify;">Terkesima aku dibuatnya. Dan jauh di lubuk hatiku, aku memastikan kalau orang dengan kedalaman dan kelembutan pemahaman seperti ini, tak akan mungkin terlibat dalam aksi-aksi terorisme kalang-kabut seperti yang banyak terjadi. Tapi penyeliaku di CIA berpadangan lain…dan akhirnya CIA menyiduk beliau untuk diinterogasi di bawah Undang-undang Kemanan Nasional. Dan semua kejadian itu membuatku diam-diam justru berempati pada para ulama yang disangka teroris oleh CIA, FBI, NSA dan agensi-agensi semacamnya. Dari berbagi sumber yang bisa aku dapat, aku mulai berusaha mendapatkan pemahaman yang sebenarnya akan makna jihad yang sebenarnya dalam Islam. Suasana semi musim ini, agaknya juga terjadi dalam hati dan jiwaku, yang mulai tertuntun hakekat hidayah, padahal kita telah memeluk Islam semenjak kita lahir. Dan aku ingin membaginya bersamamu, saudaraku.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>Telaga Kita Sepuluh</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Seperti dedaunan yang berjatuhan, asaku luruh satu demi satu. Segenap kenangan berkelebatan lalu lenyap menghilang. Terhuyung aku berlari semakin ke area dalam Central Park yang nyaris tak pernah dikunjungi orang. Dengan sebutir peluru yang yang menghunjam dada sebelah kiri. Darah segar meleleh di sela-sela jemari tanganku yang mendekapnya.</p>
<p style="text-align:justify;">“Kakak, aku rindu padamu,” tak kuasa lagi aku memendung air mata kerinduan ini. Meleleh seakan berlomba dengan darah yang membasahi dadaku. “Tapi jangan kawatir, sebentar lagi aku menyusulmu, Kak.” Engkau yang harus pergi ketika masih sangat belia. Tak sempat mewujudkan mimpimu. Ketika kanker otak itu memaksamu untuk menyerah. Bukan saja mimpimu yang runtuh, tapi juga angan Ayah. Beliau yang sangat berharap salah satu anak lelakinya meneruskan garis pengabdiannya pada negeri dengan menjadi tentara. Semenjak engkau pergi meninggalkan kami, hanya sendu yang menggelayut di wajahnya yang teduh. Sementara ibu tak lebih baik dari itu. Sejak saat itu aku bersumpah untuk mewujudkan mimpimu sekaligus harapan Ayah. Selepas SMA aku mendaftar ke TNI Angkatan Darat. Dan aku diterima di Kopasssus. Dan ketika pulang, aku menyaksikan wajah Ayah yang sedikit berbinar sejenak, sejurus kemudian bulir air matanya deras mengalir dan memelukku erat-erat.  Dan aku menyaksikan ibu jatuh tersungkur dengan tangis tak tertahan menyaksikan itu semua. Baru kemudian aku tahu, kalau bukan itu yang sebenarnya Ayah inginkan. Beliau hanya sangat mendukung cita-citamu dan bangga karena engkau berniat menelusuri kembali jejaknya. Dan bukan aku yang memaksakan diri menjadi tentara. Sementara aku abai atas cita-citaku sendiri.  Tak seharusnya aku menggantikan peranmu, karena menurut Ayah, itu hanya berakibat hilangnya anak lelakinya yang lain, diriku. Namun demikian beliau berkata, “Aku bangga padamu, nak. Walau tak semestinya seperti ini. Maafkan Ayah yang tak bisa menjaga kakakmu dan tanpa sadar telah memaksamu menjadi dirinya dan tak sempat menjadi dirimu sendiri. Maafkan Ayah, nak!” Kembali bulir-bulir bening itu keluar dari sudut matanya yang keriput. Sedangkan ibu hanya terdiam dalam kelam tanpa suara dan air mata lagi. Cepat-cepat aku merangkul untuk kemudian bersimpuh di pangkuannya. Beliau tetap diam dan tangannya mengelus kepalaku seperti yang biasa beliau lakukan pada kita berdua dulu ketika kita merajuk manja di pangkuannya yang damai.</p>
<p style="text-align:justify;">Setelah pendidikan di Kopassus, aku dikirim ke Papaua. Di sana, seluruh reguku gugur dalam sebuah upaya penyergapan yang gagal. Hanya aku seorang yang selamat. Untuk meredam kemungkinan tekanan jiwa yang menghadangku, dikirimlah aku kembali ke Cijantung untuk sementara waktu. Dan kemudian meletuslah tragedi Mei kelabu itu. Kopassus ikut tersangkut dengan oparasi Grup Mawar yang secara misterius menculik para aktifis pro reformasi kala itu. Oleh komandan, aku disusupkan ke kerumunan mahasiswa yang mengepung Gedung DPR/MPR RI dalam koordinasi BIN. Kelihaianku dalam operasi intelijen telah menarik minat Kepala BIN dan meminta Kopassus melepaskanku dan bergabung ke BIN. Maka serangkaian operasi intelijen aku jalani. Dan kembali aku menuai banyak prestasi, namun semuanya harus dirahasikan, termasuk dari Ayah dan Ibu. Yang beliau berdua tahu adalah bahwa anaknya ini adalah tentara, itu saja.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika BIN ada kerjasama pertukaran agen rahasia dengan CIA, aku adalah satu di antara lima agen dari BIN. Untuk pengkelabuhan, aku diminta CIA mendaftarkan diri ke Stanford University, dan ternyata aku bisa diterima di Departemen Computer Science. Dalam hati aku bergumam kalau inilah saatnya bagiku untuk sekali mendayung, dua pulau terlampaui: belajar ilmu komputer yang sejak dulu aku dambakan dan tetap menjadi ‘tentara’. Akibatnya, di samping serangkaian tugas belajar, aku juga melakukan serangkaian pelatihan dan operasi intelijen dalam koordinasi CIA. Walau berat, semua bisa aku jalanai dengan sangat baik. Hingga saat itu tiba. Selepas tragedi 9/11 operasi-operasi intelijen CIA mulai diarahkan pada operasi kontra-teror, yang artinya perburauan teroris dimana saja. Asal ada indikasi atau sekedar dicurigai, maka tangkap atau tumpas. Tak ada kompromi untuk menanggung risiko sedikit pun. Mantranya adalah kemanan nasional di atas segalanya. Bukan saja di dalam negeri Amerika Serikat, di negara mana pun bisa menjadi area operasi. Atas nama satu-satunya negara adidaya yang tersisa, Amerika sah melakukan apa saja. Dan untuk memperhalus itu semua, model kerjasama antara agen rahasia mereka gunakan sebagai sarana. Berlabel kerjasama internasional antiterorisme dan atau Interpol. Dan aku terlibat aktif di dalamnya. Melalui kamilah, bukan saja pertukaran informasi rahasia terjadi, tapi lebih jauh dari itu, sudah merupakan aksi intelijen ‘bersama’. Karena Amerika yang dominan, maka tentu saja kepentingan yang harus lebih diutamakan adalah kepentingan nasional Amerika. Sedangkan kepentingan nasional negara mitra, tak lebih sekedar pelangkap saja. Semua kekonyolan ini telah memaksaku berfikir ulang atas semua yang telah aku lakukan. Semakin aku terlibat dalam operasi-operasi penyusupan, penangkapan dan atau pembunuhan orang yang diduga CIA teroris, aku justru semakin menaruh simpati pada mereka. Pada keberpihakan mereka atas upaya menentang ketidakadilan Amerika yang dari waktu ke waktu semakin dalam cengkraman kepentingan korporasi dan lobi-lobi Yahudi. Aku semakin yakin kalau merekalah yang justru teroris sebenarnya.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan aku mulai merasa kalau penyeliaku di CIA mulai menaruh curiga padaku. Karenanya dia mulai berfikir untuk segera memulangkanku kembali ke Indonesia. Tapi peristiwa itu kembali terjadi, bom bunuh diri berkekuatan sangat besar meledak di sekitaran Time Square di jam sibuk. Ribuan orang tewas. Hingga seminggu pihak yang melakukannya tak tercium sama sekali oleh semua agen rahasia Amerika yang jumlahnya berderet itu. Sama sekali. Tekanan publik yang ingin mengetahui pihak yang melakukan pengeboman biadab dengan segera semakin membuat CIA frustasi. Pada semua pihak yang selama ini dicurigai melakukan aksi-aksi pengeboman, sama sekali tak ada indikasi kesana. Agaknya ini dilakukan oleh sel terorisme yang sama sekali baru. Di kalangan agen dan analis intelijen mengaitkan fenomena ini dengan kemunculan yang mengejutkan Taliban di Afghanistan.</p>
<p style="text-align:justify;">Tanpa sengaja aku tahu kalau CIA memutuskan harus ada yang dikorbankan. Semula aku menduga kalau salah satu kelompok teroris yang ada yang akan menjadi korban tuduhan tanpa dasar analisa, apalagi fakta nyata. Namun keberadaan residu bahan peledak dengan daya perusak yang begitu hebat dan hanya dimiliki oleh kalangan militer dan agen rahasia Amerika Serikat menimbulkan banyak spekulasi. Kalau bukan karena memang skenario pihak dalam untuk tujuan politik tertentu, bisa dipastikan kalau paling tidak ada pihak dalam yang terlibat.</p>
<p style="text-align:justify;">Dan aku tak menduga kalau aku yang dikorbankan. Sekarang aku diburu oleh segenap pihak yang berwajib di sini. Upaya pencegahan aku bisa keluar dari negeri Paman Sam ini semakin menyulitkan gerakku. Angan indah untuk segera bisa pulang ke Indonesia selepas kuliahku buyar sudah. Menceritakan kisah ini pada Ayah dan Ibu sirna sudah. Bahwa aku tak lagi aktif di Kopassus namun sudah ditempatkan di BIN dan bahkan lulus dari sebuah universitas ternama di dunia. Tentu hal ini akan diijinkan di Indonesia, tak seperti di Amerika yang agennya tak boleh menceritakan statusnya bahkan pada orang terdekatnya sekalipun. Padahal yang aku inginkan sekedar senyum manis mengambang di wajah Ayah dan Ibu. Dan bersimpuh di pusaramu. Bercengkrama denganmu seharian. Di bawah Kenanga yang tentu sekarang telah rimbun menemanimu. Ada sebuah puisi yang ingin kubacakan padamu. Sebuah puisi yang tertulis di atas secarik kertas terlipat di saku kiriku yang sekarang bersimbah darah. Yang barusan aku buat dengan maksud mengenangmu di sela-sela kegelisahanku sebagai ‘binatang buruan’. Sebelum sebutir peluru menembus dada kiriku. Dan pandanganku semakian tak jelas, tiba-tiba aku merasa kedinginan, Kakak! Tertegun aku melihatmu turun dari langit dan senyum manismu. Dengan lembut kau ulurkan tanganmu dan berkata, “Adikku, mari ikut denganku, telaga kita telah menanti. Tidak rindukah kau padanya? Mari adikku tersayang, kamu sudah berusaha apa yang kamu bisa. Aku bangga padamu.” “Bagaimana dengan Ayah dan Ibu, Kak?” tanyaku. “Jangan paksakan dirimu untuk bisa mengatasi segalanya, itu bukan kuasamu. Ayah dan Ibu pasti mengerti. Walau bersedih atas kepergian kita berdua, pasti beliau akan bisa menerimanya. Walau para musuh ALLAH itu melakukan tipu daya, Ayah dan Ibu pasti tahu kalau bukan kamu yang melakukannya. Karena tak harus dengan kata kita berucap dan tak harus dengan telinga kita mendengar. Sudahlah, kalau pun tidak di dunia, nanti di surga kamu bisa menceritakan yang sebenarnya kepada mereka. Sepulang aku memancing dan kamu menyelesaikan puisimu yang terakhir, mereka kan menyambut kita di pintu rumah abadi kita.” Aku pun tersenyum dan dengan ringan kugapai uluran tanganmu.</p>
<p style="text-align:center;"><strong>T.A.M.A.T</strong></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=12&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2009/12/17/telaga-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://roghuzshy.files.wordpress.com/2009/03/danau-bawah-gua-5.jpg" medium="image" />
	</item>
		<item>
		<title>Disorder World Part IV</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2007/09/09/disorder-world-part-iv/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2007/09/09/disorder-world-part-iv/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 09 Sep 2007 15:23:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/2007/09/09/disorder-world-part-iv/</guid>
		<description><![CDATA[Alliance of Indonesia-India
&#8220;Pindahkan semua data yang kamu anggap penting ke flash disk ini !&#8221; perintah Tamara kepada Handaru. &#8220;Kenapa ?&#8221; tanya Handaru kebingungan. &#8220;Tinggal saja laptop bututmu di hotel ini, sambungkan ke hot spot WiFi hotel ini dan atur cron-nya satu jam dari sekarang untuk browsing ke situs pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang, jangan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=10&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Alliance of Indonesia-India</b></p>
<p align="justify">&#8220;Pindahkan semua data yang kamu anggap penting ke flash disk ini !&#8221; perintah Tamara kepada Handaru. &#8220;Kenapa ?&#8221; tanya Handaru kebingungan. &#8220;Tinggal saja laptop bututmu di hotel ini, sambungkan ke hot spot WiFi hotel ini dan atur cron-nya satu jam dari sekarang untuk browsing ke situs pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang, jangan lupa uninstall program client trojan yang program servernya sempat kamu tanamkan ke server mereka. Musnahkan semua data dan program aplikasi yang kamu anggap penting. Jangan ada yang tersisa, mengerti ?&#8221; &#8220;Gak !&#8221; jawab Handaru ketus. Menyaksikan &#8216;pertengkaran&#8217; dua anak muda keras kepala ini, kakek Handaru menengahi, &#8220;Handaru, barusan Tamara menerima telepon dari Bapak Presiden, rencana awal menghapus &#8216;keisenganmu&#8217; di server pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang secara diam-diam dan melempar kesalahanannya pada anomali Google dari Light Camp dirubah. Bapak presiden menginginkan agar dibuat kesan yang menjebol server itu memang orang Indonesia tetapi ada kerjasama dengan pihak Monarki India. Apalagi kunjungan rahasia Bapak Presiden ke India kemarin sudah terendus agen rahasia Kekaisaran Jepang.&#8221; &#8220;Lalu ?&#8221; tanya Handaru semakin bingung. &#8220;Maksudnya, Bapak Presiden ingin memaksa Monarki India bersekutu dengan kita dalam rangka menghadapi aliansi Jepang-China.&#8221; jelas kakek Handaru. &#8220;Selamat datang di belantara politik percaturan dunia baru, pendekar 212 Wiro Sableng !&#8221; ledek Tamara.</p>
<p align="justify">Betul saja, satu setengah jam berikutnya, dari kereta bawah laut, melalui televisi satelit J-Net disiarkan bahwa telah dilakukan penggerebekan sebuah hotel oleh agen rahasia Kekaisaran Jepang tanpa izin dari Monarki India sehingga memicu ketengan kedua pihak. Dilaporkan pula bahwa hanya ditemukan sebuah laptop yang teridentifikasi sebagai laptop Mac butut yang dikenali milik hacker dengan nickname Handaru yang diduga adalah agen rahasia Republik Indonesia Raya yang beberapa saat yang lalu sempat mencoba membobol server pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang. Pemerintah Jepang menduga hacker Handaru ini difasilitasi oleh Monarki India karena salah satu alihan IP yang digunakan teridentifikasi sebagai IP resmi Departemen Pertahanan Monarki India. &#8220;Kamu pasti yang melakukannya ?&#8221; tuduh Handaru pada Tamara. Yang dituduh hanya tersenyum simpul.</p>
<p align="justify">&#8220;Sudahlah, kalian berdua tidurlah selagi sempat, karena barusan Bapak Presiden mengirim SMS kepadaku bahwa kita ditunggu beliau di Palangkaraya. Jadi sesampainya di Surabaya, kita diminta langsung ke Juanda, ada jet khusus yang telah parkir di sana. Bapak Presiden juga meminta kita menyamar karena banyak agen rahasia Kekaisaran Jepang yang dibantu Komunis China yang mengejar kita. Namun sepertinya mereka masih berkutat di India, gara-gara ide briliant Tamara yang meminta meninggalkan laptop bututmu itu.&#8221;</p>
<p align="justify">Mengingat laptop kesayangannya yang sekarang pasti sedang &#8216;diuprek&#8217; oleh para agen rahasia Kekaisaran Jepang, tak kuasa tampang sedih bergelayut di wajah Handaru. Bagaimana pun juga, laptop itulah yang dengan setia menemani malam-malam yang dilaluinya sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua. Suka dan duka telah mereka lewati bersama. Handaru nyaris tidak membutuhkan telepon. Kalau pun kangen dengan ibunya, maklum Handaru adalah hacker tipe &#8216;anak mama&#8217;, mereka lebih banyak chatting atau video conferrence atau via internet phone yang kesemuanya tidak membutuhkan alat yang namanya telepon, hanya laptop dan jaringan hot spot WiFi yang tersedia gratis hampir di setiap sudut kota Palangkaraya.</p>
<p align="justify">&#8220;Sudahlah, nanti kakek belikan yang baru.&#8221; kata kakek Handaru seolah-olah bisa membaca lamunan sang cucu. &#8220;Kakek benar-benar nggak ngerti sejarah laptop itu !&#8221; gerutu Handaru. &#8220;Halah, sok melankolis kamu !&#8221; sergah sang kakek. &#8220;Tamara kode R1 sudah kamu aktifkan ?&#8221; tanya kakek Handaru pada Tamara. &#8220;Sudah komandan pertama !&#8221; jawab Tamara tegas. Kode R1 adalah kode yang memberitahukan kepada semua agen rahasia Republik Indonesia Raya di seluruh dunia bahwa pada radius 100 kilometer dari rute yang ditempuh pemberi kode pada sistem GPS agen rahasia, agar memberikan dukungan pengamanan maksimal kepada yang bersangkutan setara dengan pengamanan R1 alias Presiden.</p>
<p align="justify">&#8220;Walau begitu, kita tetap harus waspada. Kalian tidurlah, biar aku yang berjaga duluan.&#8221; perintah kakek Handaru.</p>
<p align="justify">Begitulah, setiba di Surabaya, kami langsung ke bandara Juanda dan terbang ke Palangkaraya dengan pesawat jet khusus kepresidenan RI 2. Kami memang telah diberitahukan atas keberadaan jet khusus di bandara Juanda, namun kami bertiga tak menduga kalau yang dimaksudkan oleh bapak Presiden adalah jet khusus kepresidenan RI 2 yang biasa dugunakan oleh Wakil Presiden hanya dalam kondisi darurat. Jangankan aku, kakek dan Tamara pun tidak kalah kagetnya. &#8220;Tamara, kalau dibandingkan dengan jet yang kau gunakan untuk &#8216;menculikku&#8217; tempo hari, apa sama canggihnya ?&#8221; tanyaku pada Tamara yang belum sepenuhnya lepas dari keterkejutannya. &#8220;Oh, jet itu&#8230;adalah jet tercanggih yang dimiliki oleh ITA, namun kalau dibandingkan dengan jet khusus kepresidenan RI 1 dan RI 2 ini, dia gak ada apa-apanya. Jet ini bukan hanya jet kepresidenan, namun jet khusus kepresidenan&#8221; jawab Tamara. &#8220;Paduan antara kenyamanan dan keamanan tertinggi adalah kalimat yang agaknya bisa mewakilinya.&#8221; kata kakek menimpali. &#8220;Kakek dan Tamara belum pernah naik pesawat ini ?&#8221; tanyaku. &#8220;Hanya Paspampres unit khusus yang berhak melakukan pengamanan RI 1 dan RI 2 di dalam pesawat ini. Ibu negara dan ibu wakil presiden yang sekarang belum sekali pun menaiki kedua jet khusus ini.&#8221; jawab kakek. Benar saja, di dalam pesawat itu tergelar aneka perangkat yang bukan saja lux, tapi juga canggih. &#8220;Impresif, namun yang paling hebat dari pesawat ini adalah selubung plasma virtual di sekujur badan pesawat yang yang tak mengijinkan bukan hanya peluru kendali, tapi sebutir debu pun yang menempel di badan pesawat. Selubung ini berfungsi juga melenyapkan diri dari layar radar musuh.&#8221; kata Tamara penuh kekaguman.</p>
<p align="justify">Sesampainya kami di Palangkaraya, Paspampres langsung menghadapkan kami pada Presiden. &#8220;Sekali lagi saya meminta maaf pada bapak Presiden atas semua kekisruhan ini !&#8221; kata kakek. &#8220;Oh tidak Mr. Handaru, selalu saja ada hikmah di balik suatu kejadian. Berkat ini semua, India setuju mengikat aliansi dengan kita.&#8221; jawab Presiden yang membuat dadaku terasa agak lega. &#8220;Untuk selanjutnya, saya mohon pada Mr. Handaru sudi &#8216;meminjamkan&#8217; cucu Anda untuk kita libatkan pada satu unit kecil khusus intelejen gabungan dari beberapa unit intelejen negeri ini. Tentu saja dalam hal ini dia mewakili ITA bersama Tamara, bagaimana ?&#8221; tanya bapak Presiden pada kakek. &#8220;Siap pak, sebaiknya memang begitu. Kalau cucu saya ini &#8216;dilepas&#8217; begitu saja, dia bukan saja menjadi incaran para agen asing, namun dia juga tidak bisa belajar bertanggung atas perbuatannya.&#8221; jawab kakek. &#8220;Mohon maaf bapak Presiden, bagaimana dengan kuliah saya ?&#8221; tanyaku dengan lugunya. Presiden, kakek dan Tamara, serempak ketiganya tersenyum simpul.</p>
<p align="justify"><b>bersambung&#8230; </b></p>
<p align="right">Dedicated for <a href="http://www.light19.com/" target="_blank">Light Intermutimedia</a><br />
Perusahaan <a href="http://www.softwarepulsa.com" target="_blank">Software Pulsa</a></p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/handarusakti.wordpress.com/10/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/handarusakti.wordpress.com/10/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/10/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/10/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/10/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=10&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2007/09/09/disorder-world-part-iv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hantu Muka Rata Part III : Pembuktian</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/26/hanru-muka-rata-part-iii-pembuktian/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/26/hanru-muka-rata-part-iii-pembuktian/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 26 Aug 2007 16:46:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/26/hanru-muka-rata-part-iii-pembuktian/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah satu jam sejak pukul 12 malam tadi, aku, Yosi, Ririn dan Nadhir duduk terdiam dengan kecemasan masing-masing di bangku depan perpustakaan pusat dekat ATM yang menghebohkan itu. Sejauh ini tidak terjadi apa-apa. Hanya bayangan hitam sekelebatan dan terpaan angin dingin beraroma mistis yang menyapa kami berempat. Hantu muka rata yang kami tunggu belum juga [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=9&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p align="justify">Sudah satu jam sejak pukul 12 malam tadi, aku, Yosi, Ririn dan Nadhir duduk terdiam dengan kecemasan masing-masing di bangku depan perpustakaan pusat dekat ATM yang menghebohkan itu. Sejauh ini tidak terjadi apa-apa. Hanya bayangan hitam sekelebatan dan terpaan angin dingin beraroma mistis yang menyapa kami berempat. Hantu muka rata yang kami tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. &#8220;Emang dia punya batang hidung ? Bukankah mukanya rata ?&#8221; tanyaku membatin sambil tersenyum. &#8220;Kenapa tersenyum ? tanya</p>
<p align="justify">Ririn heran. &#8220;Gak apa-apa.&#8221; jawabku sekenanya.</p>
<p align="justify">&#8220;Sudah satu jam.&#8221; Yosi menyambung percakapan aku dan Ririn. &#8220;Aku kebelet pipis.&#8221; kata Ririn cengar-cengir. Aku menoleh ke Nadhir yang sejak tadi diam sambil menutup kedua matanya, &#8220;Gimana Dhir ? kita balik ?&#8221; tanyaku padanya. &#8220;Eh, ada apa ? dia sudah datang ?&#8221; &#8220;Kamu tertidur ya ?&#8221; gerutu Yosi. &#8220;Siapa bilang aku tertidur ?&#8221; jawab Nadhir menghindar. &#8220;Ririn kebelet pipis, gimana ? kita kembali ?&#8221; tanyaku mengulangi. &#8220;Terserah kamu aja, Sak.&#8221; jawab Nadhir.</p>
<p align="justify">Tiba-tiba datang seorang satpam dari arah kantor pusat, &#8220;Siapa kalian ? Ada apa malam-malam begini di sini ? Ini perempuan lagi.&#8221; Kaget juga mendapati &#8216;tamu gak diundang ini&#8217;. &#8220;Eh, kami panitia ospek pak.&#8221; jawabku reflek. &#8220;Kami bertiga mengantarkan teman perempuan kami ini ambil uang di ATM ini. Dia bendahara acara ospek di fakultas kami, MIPA.&#8221; jawab Yosi membohongi satpam itu. Memang saat ini adalah masa ospek mahasiswa baru. Setiap bertepatan dengan masa ospek, selalu tepat saat musim pancaroba dari penghujan ke kemarau. Pada saat-saat seperti sekrang ini, dinginnya Kota Malang seperti menusuk-nusuk tulang. Tapi kami berempat sama sekali bukan panitia ospek. &#8220;Ya sudah. segera kembali ambil uang dan kembalilah ke fakultas kalian.&#8221; Sebenarnya letak Fakultas MIPA hanya berseberangan jalan dengan perpustakaan pusat ini. Namun dari sini suasananya sep sekali, mungkin para panitia ospek yang beneran sedang beristirahat setelah seharian mengembleng mahasiswa baru. &#8220;Ayo sana !&#8221; perintah satpam berkumis tebal ini. Ririn kebingungan dan pura-pura masuk ke ruang kaca ATM ini, mengeluarkan KTM-nya yang juga ATM BNI, pura-pura mengambil uang, lalu keluar lagi. Ternyata satpam ini menunggui kami. Kontan aku, Yosi dan Nadhir dibuatnya kikuk. &#8220;ATM-nya rusak.&#8221; kata Ririn sejurus kemudian setelah keluar dari ruang ATM itu. &#8220;Biar saya cek pakai ATM BNI saya saja.&#8221; kata si satpam ini sambil berkata, &#8220;Walaupun satpam, saya juga punya ATM.&#8221; kata si satpam pamer. Yosi nyeletuk, &#8220;KTS ya pak ?&#8221; &#8220;Apa itu KTS ?&#8221; tanya pak satpam kebingungan. &#8220;Kartu Tanda Satpam.&#8221; jawab Yosi meledek. Pak satpam itu gak memperdulikannya lalu masuk ke ruang ATM itu tanpa menutup pintunya. Kami berempat kembali duduk ke bangku semula dan merencanakan melarikan diri sebelum satpam itu tahu kalau sebenarnya ATM-nya gak rusak. Namun tiba-tiba kami mendengar terikan tergagap, &#8220;Han&#8230;han&#8230;han&#8230;tuuuuuuuuuuu !!!!!&#8221; rupanya asal suara dari pak satpam itu. Ketakutan mencekam membuat wajahnya pusat pasi. Sementara di depan ruang ATM berdiri sesosok orang dengan rambut panjang berjubah putih. Kontan kami bertiga lari tunggang langgang.</p>
<p align="justify">Keesokan harinya kami mendengar berita bahwa pak satpam yang tadi malam itu ditemukan temannya tergeletak pingsan di ruang ATM BNI depan perpustakaan pusat.</p>
<p><strong>bersambung . . .</strong></p>
<p align="right">Dedicated for <a href="http://www.light19.com/" target="_blank">Light Intermutimedia</a><br />
Perusahaan Software Pulsa</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/handarusakti.wordpress.com/9/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/handarusakti.wordpress.com/9/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=9&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/26/hanru-muka-rata-part-iii-pembuktian/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Disorder World Part III</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-iii/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-iii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 11:55:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-iii/</guid>
		<description><![CDATA[About Tamara

&#8220;Makanan India enak tapi pedas, tapi bagimu yang doyan pedas, kakek rasa tidak menjadi masalah.&#8221; kata kakek Handaru pada cucunya yang bimbang menatap makanan yang terhidang di hadapannya. &#8220;Dan satu lagi, hidangan ala India di hotel ini adalah yang terenak di seluruh India.&#8221; tambah Tamara yang ikut nimbrung. &#8220;Memangnya kamu sudah sering ke India [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=7&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>About Tamara<br />
</b></p>
<p align="justify">&#8220;Makanan India enak tapi pedas, tapi bagimu yang doyan pedas, kakek rasa tidak menjadi masalah.&#8221; kata kakek Handaru pada cucunya yang bimbang menatap makanan yang terhidang di hadapannya. &#8220;Dan satu lagi, hidangan ala India di hotel ini adalah yang terenak di seluruh India.&#8221; tambah Tamara yang ikut nimbrung. &#8220;Memangnya kamu sudah sering ke India ?&#8221; tanyaku dengan nada sedikit mengejek. &#8220;Handaru, Tamara ini adalah komandan ITA, jadi jangankan India, tidak ada sejengkal pun tanah di dunia ini yang belum pernah diinjaknya. Tidak seperti kamu, yang hanya berkutat di ruang server kampusmu dan setiap bulan menunggu kiriman uang dari bapakmu, oh&#8230;ya, bagaimana kabar bapak dan ibumu ?&#8221; &#8220;Bapak dan ibu sehat, kakek&#8230;kabar nenek gimana ? Aku kangen.&#8221; jawab Handaru sendu.   &#8220;Sudahlah, jangan berpura-pura, kangen nenekmu atau tambahan uang saku darinya ?&#8221; sindir sang kakek. Maka derai tawa Tamara pun tak terbendung lagi menyaksikan ulah kakek dan cucunya ini.</p>
<p align="justify">&#8220;Ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian, kenapa Tamara memanggil kakek sebagai komandan pertama ?&#8221; Maka berceritalah kakek Handaru bahwa dirinya sebenarnya adalah komandan ITA pertama yang salah satu anak buahnya adalah ayah Tamara. Namun pada suatu operasi rahasia yang terbongkar di China, ayah Tamara tewas tertembak dalam baku-tembak di Hongkong. Singkat cerita, rupanya Tamara mewarisi kemampuan ayahnya dalam dunia spionase digital. Setelah lulus dari National Institute of Technology India, kakek Handaru merekutnya sebagai agen. Lima tahun berselah, masa jabatan kakek Handaru berakhir dan Tamara yang menggantikannya sebagai Komandan ITA. Hal ini dimungkinkan karena dalam ITA kemampuan seseorang adalah faktor pertimbangan paling utama dalam penjenjangan karir dan bukan senioritas. &#8220;Begitulah kisahnya, anak muda.&#8221; ujar kakek Handaru.</p>
<p align="justify">&#8220;Padahal dia cuma selisih empat tahun lebih tua darimu, lho !?&#8221; tembak kakek Handaru kepada cucunya yang terkesima ceritanya perihal Tamara. &#8220;Eh&#8230;.iya&#8230;emangnya kenapa ?&#8221; jawab Handaru sekenanya. Kakek handaru hanya tersenyum sambil meneruskan makannya. Sementara itu Tamara hanya termenung, rupanya ia teringat ayahnya. Mengetahui ia diperhatikan Handaru, Tamara berkata dengan tergesa-gesa berusaha menutupi perasaannya, &#8220;Sepertinya cucu komandan pertama sebentar lagi harus juga masuk ke ITA, kemampuannya menyusup server orang lain perlu diarahkan.&#8221; &#8220;Ogah, aku gak sudi menjadi agen ITA, apalagi menjadi anak buahmu, komandan kedua.&#8221; ledek Handaru. Kakek Handaru dan Tamara hanya tersenyum.</p>
<p align="justify">&#8220;Baiklah, kamu sudah siap Handaru ?&#8221; tanya kakek. &#8220;Always.&#8221; jawab Handaru yang masih kesal diledeki menjadi anak buah Tamara. Kalau jadi pacar Tamara mungkin dia tidak menolak, tapi kalau jadi anak buah ? entar dulu. Cucu Mr. Handaru Sakti, Chairman Light Intermultimedia, Co ini memang dikenal memiliki ego yang tinggi. Pernah suatu saat mendapat nilai B dalam mata kuliah Kecerdesan Buatan, dan merasa seharusnya mendapat nilai A, maka ditantanglah dosen pengajarnya membuat code langsung di depan kelas dengan tema terserah sang dosen. Akhirnya sang dosen menyerah dan memberinya nilai A. &#8220;Baiklah kita naik kereta bawah laut.&#8221; kata Tamara.</p>
<p>&#8220;Kereta bawah laut ?&#8221; . . .</p>
<p><b>bersambung . . .</b></p>
<p align="right">Dedicated for <a href="http://www.light19.com/" target="_blank">Light Intermutimedia</a><br />
Perusahaan Software Pulsa</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/handarusakti.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/handarusakti.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=7&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-iii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Disorder World Part II</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-ii/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-ii/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 05:47:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-ii/</guid>
		<description><![CDATA[Strained Situation
“Ini dia jagoan kita !” seloroh lelaki paruh baya berwajah tegar yang dipundaknya diamanatkan nasib republik ini. Negara yang dalam posisi strategisnya saat ini merupakan salah satu kutub dari empat kutub tata dunia baru. Namun sebenarnya lebih tepat jika disebut tiga kutub berseberangan karena Kekaisaran Jepang dan Komunis China sepakat membentuk aliansi dan masih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=6&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="postentry"><b>Strained Situation</b></p>
<p align="justify">“Ini dia jagoan kita !” seloroh lelaki paruh baya berwajah tegar yang dipundaknya diamanatkan nasib republik ini. Negara yang dalam posisi strategisnya saat ini merupakan salah satu kutub dari empat kutub tata dunia baru. Namun sebenarnya lebih tepat jika disebut tiga kutub berseberangan karena Kekaisaran Jepang dan Komunis China sepakat membentuk aliansi dan masih ada India di kutub yang lain yang masih menemukan beberapa kendala dalam usaha membangun persekutuan dengan Indonesia Raya. Persekutuan antara Kekaisaran Jepang dan Komunis China sebenarnya tidak terlalu kuat karena didasarkan pada kepentingan atas penguasaan akses sumber-sumber energi dan otak-otak cerdas yang merupakan kebutuhan vital era industri baru saat ini, sehingga setiap saat bisa saja pecah apalagi psikologis sejarah yang kurang mendukung karena di masa lalu Jepang pernah menjajah China.</p>
<p align="justify">“Bapak presiden, ini Handaru Jr, cucu dari Mr. Handaru Sakti, Chairman Light Intermultimedia, Co. dan Handaru, seperti yang kau tahu, beliau adalah bapak presiden kita.” kata Tamara memperkenalkan kami masing-masing. Sambil berjabat tangan, Handaru menyapa : “Mr. presiden, maafkan saya yang telah merepotkan Anda !”</p>
<p align="justify">“Bukan hanya aku, bahkan bukan hanya negara kita yang yang kau buat kalang-kabut, namun segenap konstalasi tata dunia baru kita saat ini sedang bersitegang.” jawab sang Presiden dengan sangat jelas namun terasa tenang untuk urusan yang segawat itu. “The last world war bisa saja terjadi.” imbuh sang presiden. “Namun semua bisa dicegah jika aku mengabulkan permintaan mereka agar menyerahkan kamu dan menjamin bahwa segala informasi perihal aktivitas penyusupanmu ke server data intelegen Kekaisaran Jepang tidak ada yang bocor.” kata presiden. Sontak Handaru menjawab, “Kalau begitu serahkan saja saya kepada mereka !” Sambil tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepada Tamara, sang presiden berkata lirih, “Benar-benar anak kemarin sore.”</p>
<p align="justify">“Baiklah anak muda, kita ke ruang sebelah, agaknya kakekmu telah tiba !” “Kakek ? di sini ?”</p>
<p align="justify">“Maafkan ulah cucu saya bapak Presiden, saya akan bawa dia ke Light Camp di Malang, karena di sana seperti pulau terpencil yang sama sekali tidak akan diduga pihak Kekaisaran Jepang. Lagi pula kami memiliki saluran aman yang tidak pernah terdeteksi keberadaannya hingga saat ini. Di samping itu, di sana berkumpul 350 ‘ilmuwan komputer’ handal yang siap membantunya menerobos sistem basis data intelejen Kekaisaran Jepang dan membuat jejak yang ditinggalkan oleh cucuku ini terlihat seperti anomali algoritma program mereka sendiri. Atau kita bisa saja melimpahkan kesalahan ini kepada Google.”</p>
<p align="justify">“Baiklah kalau begitu Mr. Handaru, bawalah 50 orang ITA dibawah kendali Tamara !” jawab Presiden.</p>
<p align="justify">“Dengan segala hormat, tidak perlu bapak Presiden, kalau boleh saya meminta biar Tamara saja yang bersama kami kembali ke Indonesia !” kata kakek Handaru. Presiden berwibawa itu hanya mengangguk lalu berkata pada Tamara, “Tamara, aku percayakan urusan kakek dan cucunya ini kepadamu !” “Siap, pak !” jawab Tamara tegas.</p>
<p align="justify">“Kalau begitu, aku akan menemui raja India di Istana Taj Mahal sekarang, kolonel, apakah mobilku sudah siap ?”</p>
<p align="justify">Seorang kolonel yang kelak di kemudian hari baru aku ketahui bahwa dia adalah komandan Paspampres dengan sigap memberikan hormat dan menjawab, “Siap, pak !”.</p>
<p align="justify">Selepas presiden meninggalkan ruangan ini dan hanya menyisakan kami bertiga di ruangan ini, kakek Handaru berkata pada Tamara, “Kita kembali dulu ke hotel !”. “Siap, komandan pertama !” jawab Tamara yang bagi Handaru Jr. terdengar aneh.</p>
<p align="justify">“Komandan pertama ? di mana aku sekarang ? India ?” berpuluh-puluh pertanyaan berputar di kepala Handaru Jr meminta jawaban.</p>
<p align="justify">“Ya, kita di India dan aku tahu kalau kamu lapar.” kata kakek Handaru seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala cucunya. Dan Tamara hanya menanggapinya dengan seulas senyum tersungging dibibirnya.</p>
<p align="justify"><b>bersambung . . .</b></p>
<p align="justify">Catatan :</p>
<ul>
<li>Sebaiknya Anda membaca <a href="http://handaru.light19.com/?p=16" target="_blank">ini</a>, agar lebih tahu alur dan latar belakang cerita serta beberapa istilah sebelumnya.</li>
<li>Google adalah mesin pencarian di internet yang paling populer, perusahaan ini milik pemerintah komunis China hasil akuisisi dua dekade silam dari apa yang dulu disebut sebagai negara Amerika Serikat. Google adalah salah satu dari sedikit sisa kejayaan Amerika.</li>
</ul>
<p align="right">Dedicated for <a href="http://www.light19.com/" target="_blank">Light Intermutimedia</a><br />
Perusahaan Software Pulsa</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/handarusakti.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/handarusakti.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=6&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world-part-ii/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Disorder World</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 05:45:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Petualangan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world/</guid>
		<description><![CDATA[Prologue
2056 — Tata dunia baru dikendalikan oleh empat poros utama : Kekaisaran Jepang, Monarki India, Komunis China dan Indonesia Raya. China dan Jepang saling mengikat diri dalam persekutuan dalam rangka penguasaan atas sumber energi untuk kepentingan industri mereka dan perburuan otak-otak cerdas di setiap jengkal bagian dunia. Monarki India menolak ajakan Indonesia Raya dalam menghadapi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=5&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><b>Prologue</b></p>
<p align="justify"><b>2056</b> — Tata dunia baru dikendalikan oleh empat poros utama : Kekaisaran Jepang, Monarki India, Komunis China dan Indonesia Raya. China dan Jepang saling mengikat diri dalam persekutuan dalam rangka penguasaan atas sumber energi untuk kepentingan industri mereka dan perburuan otak-otak cerdas di setiap jengkal bagian dunia. Monarki India menolak ajakan Indonesia Raya dalam menghadapi aliansi Jepang-China karena kebijakan militer Indonesia Raya dalam menangani pemberontakan etnik Hindu di Bali. Konstalasi kekuatan dunia yang terkonsentrasi di Asia, empat pemain utama dalam tiga poros untuk dua penguasaan : sumber energi dan otak-otak cerdas. Amerika Serikat tidak lebih dari sekedar McDonald dan Starbucks, Eropa hanya menyisakan restoran Perancis dan sphagetti Italia. Inggris Raya hanya disibukkan dengan liga sepak bolanya. Ya, dunia akhirnya berada dalam rengkuhan filosofi timur yang luhur namun saling berseteru.</p>
<p><b>Intruder</b></p>
<p align="justify">Palangkaraya, ibukota Indonesia Raya. Rabu, 2 Januari 2056. Handaru, mahasiswa semester tujuh jurusan Computer Physics, Mahakam Institute of Technology (MIT), terjaga hingga jam 3 dini hari, menunggu result atas trojan yang berhasil dia tanamkan di server pusat data badan intelejen Kekaisaran Jepang. Blink, popup chatroom-nya berkedip :</p>
<p align="justify"><a href="http://handaru.light19.com/wp-content/uploads/2007/05/chat3.png" class="imagelink" title="chat3.png" rel="lightbox"><img src="http://handaru.light19.com/wp-content/uploads/2007/05/chat3.thumbnail.png" alt="chat3.png" /></a></p>
<p align="justify">“Bandara ? bagaimana dia mengenaliku ? apa benar dia ITA ? gak ada pilihan, aku harus ke bandara.” Hanya dengan membawa laptop Mac kesanyangannya dengan tas ransel butut-nya, Handaru pergi ke bandara naik motor Honda ‘Strugle‘ Tiger, motor produk Kekaisaran Jepang yang memikat hatinya karena dia merasa ‘gagah’ dengan menungganginya, satu-satunya sisi maskulin yang masih tersisa dari dirinya, karena telah ‘menghabiskan’ hidupnya hanya di depan mesin yang dikenal dengan komputer server di kampusnya, atau kalau nggak dengan laptop Mac-nya yang setiap saat dapat terkoneksi dengan server di kampusnya itu. Gerbang masuk bandara dijaga segerombol tentara, tunggu, dari baret yang mereka kenakan mereka adalah Kopassus. Ada apa ? kenapa bukan dari prajurit dari Angkatan Udara seperti biasanya ?</p>
<p align="justify">Antrian mobil yang mau masuk bandara lumayan panjang, tapi para tentara itu tidak mau membuang waktu, mereka mendatangi mereka termasuk … aku. “Anda Handaru ?”, tanya seorang Kopassus kepadaku. “Ya.”, jawabku singkat kerena heran dari mana dia tahu namaku ? “Ok, Anda ikut saya !” ajaknya, atau lebih tepatnya paksanya. “Lapor komandan, target sudah ditemukan, mohon ijin segera dijemput !” lapor si Kopassus kepada komandannya melalui alat komunikasi internal mereka, tak seberapa lama kemudian, dari arah gerbang keluar bandara meluncur tiga buah Jip militer mendekati kami, “Masuk ke Jip yang tengah !,” perintah si Kopassus tadi. Dengan masih menyimpan seribu satu pertanyaan aku menuruti perintahnyanya. Segera aku dibawa ke landasan pacu dimana sebuah jet canggih telah menungguku. “Silahkan naik, mohon maaf atas ketidaknyamanan yang telah anda rasakan” kata si Kopassus. “Akhirnya sisi humanis tentara keluar juga,” pikirku. Aku hanya bisa tersenyum dan melangkah menaiki tangga jet yang telah menungguku dengan deru mesin yang memengkak-kan telinga.</p>
<p align="justify">“Hello Handaru !” sapa seseorang melalui pengeras suara stereo yang ada dalam pesawat yang mengagetkanku karena terkesima dengan semua kecanggihan yang ada dalam jet ini. Perlahan layar datar turun dari atap pesawat tepat di depanku. Wajah seorang wanita cantik dengan mata biru dan rambut hitam yang panjang bergelombang tampak di depan mataku. Sejenak, tak ada apa pun yang aku bisa lakukan selain terkesima seperti terhipnotis. Seulas senyum manis terkembang, “Hello !” katanya. “Yup, maaf !” jawabku tergagap. “Namaku Tamara, ITA” ujarnya memecah kebekuan. “Ok, aku Handaru, kamu sudah tahu, kan ?” tanyaku. “Tentu, superhero yang nge-hack server pusat data spionase Kekaisaran Jepang dengan realname dan dari server kampusnya.” ledek-nya. “Oya ! bagaimana dengan server kampusku yang aku gunakan ?” tanyaku. Server ini sebenarnya adalah server backup dari web server institute, karena fungsinya hanya sebagai backup, maka sering aku gunakan untuk ‘keperluan lain’, seperti malam ini. Kebetulan aku adalah salah satu mahasiwa anggota tim developer web server kampus. “Tenang, sudah aku bereskan, jagoan !” jawabnya. “Bagaimana kamu bisa masuk ? aku sendiri yang bikin enskripsi login-nya, kamu bisa menerobosnya ?” tanyaku penasaran. “Gak, aku telepon rektor kamu dan minta agar server kampusmu di-shutdown, cabut listriknya !” jawabnya. “Wow … !!!??”, pikirku, wanita kuasa macam apa dia sehingga bisa memerintahkan rektorku ‘mematikan’ server pada dini hari begini. “Ok, cowboy ulahmu telah membangunkan semua orang penting negeri ini karena resiko konfrontasi dengan Kekaisaran Jepang, bahkan dua pesawat tempur F56 harus mengawalmu, presiden saja tidak pernah mendapatkan pengawalan seperti itu, lihat ke jendela !”. Astaga, dua pesawat tempur tercanggih saat ini, F56, benar-benar mengawal jet ini. Aku hanya bisa terpaku. “OK, hacker, istirahatlah jika bisa, kamu boleh ambil coke atau yang lainnya asalkan jangan wine, kerena kamu belum cukup umur. Kita akan bertemu presiden.” katanya mengakhiri pembicaraan. “Presiden ?”</p>
<p><b>bersambung . . .</b></p>
<p align="justify">Catatan : ITA (Information Technology Agency) lembaga spionase yang paling berpengaruh di Indonesia Raya bahkan dunia baru yang telah tunduk pada teknologi informasi.</p>
<p align="right">Dedicated for <a href="http://www.light19.com/" target="_blank">Light Intermutimedia</a><br />
Perusahaan Software Pulsa</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/handarusakti.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/handarusakti.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=5&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/disorder-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://handaru.light19.com/wp-content/uploads/2007/05/chat3.thumbnail.png" medium="image">
			<media:title type="html">chat3.png</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hantu Muka Rata Part II : ATM BNI Depan Perpus Unibraw</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-ii-atm-bni-perpus-unibraw/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-ii-atm-bni-perpus-unibraw/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 05:40:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-ii-atm-bni-perpus-unibraw/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
“Din, ini gimana ?” tanya Lita kepada Dini temannya satu kamar di kos-kos-an Watugong 19. “Yang jelas kamu memang harus transfer malam ini juga untuk biaya pengobatan adik kamu yang kecelakaan tadi sore di Jogja, kalau tidak adik kamu tidak bisa mendapatkan perawatan, baru besok pagi kita ke Jogja untuk melihat keadaanya di rumah sakit,” [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=4&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="postentry">&nbsp;</p>
<p align="justify">“Din, ini gimana ?” tanya Lita kepada Dini temannya satu kamar di kos-kos-an Watugong 19. “Yang jelas kamu memang harus transfer malam ini juga untuk biaya pengobatan adik kamu yang kecelakaan tadi sore di Jogja, kalau tidak adik kamu tidak bisa mendapatkan perawatan, baru besok pagi kita ke Jogja untuk melihat keadaanya di rumah sakit,” jawab Dini berusaha menenangkan sahabatnya. “Itu masalahnya, teman kos sekamar adik aku yang juga teman kuliahnya di Fisip UGM punyanya hanya ATM BNI. Sama dengan kita, Kartu mahasiswa sekaligus ATM, dasar pendidikan kapitalis !”, gerutu Lita yang walaupun keadaan genting tetap saja naluri “pemberontak” dari jiwa aktivisnya muncul. ”Berarti kan tidak ada masalah ? ATM teman adikmu satu bank dengan ATM kita. Maaf, apa doku kamu nge-pres ? aku ada kok !” kata Dini. “Gak, aku ada uang kok, masalahnya hanya ada 2 ATM BNI yang dekat dari sini, pertama ATM BNI di Soekarno Hatta, berarti masih jauh juga kan kalau jalan kaki dari sini ? dan yang kedua kamu tahu sendiri ATM BNI di depan perpus pusat.” jelas Lita.</p>
<p align="justify">Seketika wajah Dini pucat masam. Ya, semua tahu dengan kabar burung hantu muka rata di ATM BNI di depan perpus. “Gimana ?” tanya Lita membuyarkan lamunan Dini yang membayangkan cerita-cerita seram teman-temannya angkatan 1994 FIA Unibraw perihal si hantu muka rata ini. Ketakutannya bertambah ketika membayangkan harus melintasi jalan-jalan kampus yang lengang apalagi pada jam 10 malam seperti sekarang ini. Ditambah lagi di kanan-kirinya pepohonan yang rimbun. ”Hm, apa boleh buat, kita ke ATM BNI depan perpus aja.” tegas Dini. “Kamu yakin ?” tanya Lita. “Ya . . .,” jawab Dini sambil mengangguk namun ragu.</p>
<p align="justify">Maka berangkatlah mereka berdua dengan perasaan yang masih diliputi kegalauan karena adik Lita yang tertimpa musibah kecelakaan walaupun menurut temanya tidak parah. Ada juga desiran rasa takut bila kulit mereka merasakan tiupan dingin angin malam musim kemarau kota Malang. Bulu kuduk mereka berdiri ketika melihat banyangan pepohonan yang terkadang terlihat seprti kelebat hantu. Dini berusaha menggengam tangan sahabatnya dengan harapan sahabatnya tidak takut dan berjuang menenangkan hati demi adiknya walaupun Dini sendiri sebenarnya juga tidak bisa lepas dari lamunannya tentang si hantu muka rata.</p>
<p align="justify">“Gedebuk !” suara aneh datang dari sisi belakang fakultas Kedokteran yang diiringi dengan sekelebatan bayangan hitam. Hampir saja kedua teman akrab ini mengambil langkah seribu. Ruang belakang fakultas Kedokteran dekat garasi mobil universitas konon dipakai sebagai ruang penyimpanan mayat yang akan digunakan untuk praktek bedah anak-anak kedokteran. Banyak mahasiswa yang menemui fenomena ganjil bila melintas di daerah ini pada malam hari terutama anak-anak kedokteran dan MIPA.</p>
<p align="justify">Dengan tetap menguatkan tekad, keduanya berjalan cepat ke depan perpus pusat. Sesampainya di depan ATM BNI, keduanya harus menunggu karena ada cewek yang rupanya butuh ke ATM juga malam-malam begini. “Mungkin dia juga dalam keadaan darurat kayak kita,” kata Dini kepada Lita. Selang 5 menit cewek ini tidak kunjung keluar juga dari ATM. “Jangan-jangan ….?” bisik Lita pada sahabatnya. “Gak mungkin, kakinya menginjak tanah dan masak hantu pakai jeans ?” sergah Dini. Lita-pun tersenyum.</p>
<p align="justify">Untuk mencairkan suasana kedua sahabat ini berusaha ngobrol perihal adiknya Lita. Selang tak seberapa lama, cewek tadi keluar dan mengomel, “Sialan !” Mendengar umpatan ini, secara refleks Dini manyahutinya, ”Kenapa mbak ? ATM-nya rusak ?” ”Gak, cuma . . .” kata cewek ini sambil berbalik dan menyibak rambutnya. Seperti disihir Dini dan Lita terpaku dengan air muka ketakutan.</p>
<p align="justify">“Kenapa ? dia hantu muka rata ?” tanya Nadhir penasaran pada Ririn yang bercerita tentang teman satu kosnya Dini dan Lita ketika kami berkumpul di perpus jurusan untuk membahas rencana membuktikan keberadaan hantu muka rata yang konon sering muncul di ATM BNI di depan perpus pusat. “Ya, beruntung aku tidak mereka ajak waktu itu.” jawab Ririn yang merinding bila mengingat cerita kedua temannya ini. “Oke, gimana ? nanti malam jadi kita membuktikan keberadaan si hantu muka rata ini malam nanti ?” kataku kepada ketiga temanku yang di Fisika lebih dikenal sebagai ”Geng Fisika Teori” : Nadhir, Yosi dan Ririn. “Tetap jadi dong, siapa takut ?” sergah Yosi.</p>
<p align="justify">“Sip kalau begitu begini persiapannya ….., tapi sebentar, bukankah hantu muka rata yang di IKIP itu laki-laki, lalu pindah ke ATM BNI di depan perpus kok berubah jadi cewek ?” tanyaku penasaran. Semua menggeleng. “Oke, kita buktikan aja nanti malam,” celetuk Yosi.</p>
<p><strong>bersambung . . .</strong></p>
<p align="right">Dedicated for <a href="http://www.light19.com/" target="_blank">Light Intermutimedia</a><br />
Perusahaan Software Pulsa</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/handarusakti.wordpress.com/4/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/handarusakti.wordpress.com/4/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/4/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/4/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/4/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=4&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-ii-atm-bni-perpus-unibraw/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hantu Muka Rata Part I : IKIP Negeri Malang</title>
		<link>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-i-ikip-negeri-malang/</link>
		<comments>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-i-ikip-negeri-malang/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Aug 2007 05:23:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>handarusakti</dc:creator>
				<category><![CDATA[Misteri]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-i-ikip-negeri-malang/</guid>
		<description><![CDATA[&#160;
Malam itu begitu sunyi. Seorang mahasiswi IKIP Negeri Malang berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong Asrama Putri kampus yang senyap. Tak ada suara lain yang bisa didengarnya kecuali langkahnya sendiri. Terhenyak dia mendengar ada suara pria yang menyapanya dari belakang : “Baru pulang dari rental komputer ya mbak ?” “Iya, jawab dia sekenanya.” Mahasiswi ini bermaksud menoleh [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=3&subd=handarusakti&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p class="postentry">&nbsp;</p>
<p align="justify">Malam itu begitu sunyi. Seorang mahasiswi IKIP Negeri Malang berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong Asrama Putri kampus yang senyap. Tak ada suara lain yang bisa didengarnya kecuali langkahnya sendiri. Terhenyak dia mendengar ada suara pria yang menyapanya dari belakang : “Baru pulang dari rental komputer ya mbak ?” “Iya, jawab dia sekenanya.” Mahasiswi ini bermaksud menoleh ke arah datangnya suara untuk mengetahui siapakah gerangan laki-laki yang menyapanya pada jam 11 malam, di Asrama Putri lagi. Namun begitu dia menoleh, betapa terkejutnya dia, seolah berhenti detak jantungnya. Orang yang menyapanya ternyata laki-laki dengan pakaian hitam tanpa muka alias muka rata. Kedua kakinya seolah terhunjam ke perut bumi. Untuk beberapa saat dia hanya bisa mematung dan tak bisa menyadari apa yang terjadi.</p>
<p align="justify">Begitu kesadarannya mulai kembali, sekuat tenaga dia berlari menuju kamarnya. Tepat di depan kamarnya dia bertemu dengan Pak Karjo. Walaupun dari belakang, namun dia yakin sekali kalau laki-laki itu adalah Pak Karjo penjaga malam kampus ini. Pada jam-jam tengah malam, Pak Karjo melakukan ronda keliling area kampus tidak terkecuali Asrama Putri. Untuk sejenak ketenangan mulai dapat dirasakannya. Sambil mengatur nafas dia menyapa Pak Karjo : “Ronda pak ?” “Iya neng, ada apa kok berlari-lari seperti dikejar-kejar setan ?” “Aku tadi bertemu dengan pria, namun ternyata mukanya rata, aku kira dia hantu atau mungkin aku berhalusinasi karena ke-cape-an habis nge-tik skripsi”, jawabnya. Bayangan Pak Karjo mulai berjalan mendekatinya, dari temaram lorong Asrama Putri, mulai muncullah bayangan Pak Karjo yang berperawakan tinggi besar, “Apa seperti ini, neng ?”. Menjeritlah mahasiswi ini, yang kontan membangunkan segenap penghuni Asrama Putri.</p>
<p align="justify">Inilah kisah seram yang diceritakan oleh Ririn kepadaku dan teman satu gengku yaitu Nadhir dan Yosi saat ngumpul di Perputakaan Unibraw. Kami memang sekelompok mahasiswa Jurusan Fisika yang sangat berminat di bidang Fisika Teori. Oh..ya, namaku Sakti. Aku adalah ketua geng ini. Kami memang sangat demen kumpul di perpus. Di tempat inilah kami bisa dapat referensi buku Fisika Teori yang memang susah ditemukan di perpustaakan Jurusan Fisika maupun Fakultas MIPA. Kami mahasiswa Fisika Angkatan ‘94. Kalau sudah kumpul di perpus pusat, kami berempat bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar baca buku atau asyik mendiskusikan masalah-masalah Fisika Teori.</p>
<p align="justify">“Kalian percaya hantu ?” tiba-tiba Yosi menanyakan sesuatu yang tak terduga oleh kami semua. “Itu hanya fenomena Quantum beda dimensi”, jawabku sekenanya. “Aku percaya, hantu adalah bagian dari yang ghoib yang harus kita imani.”, jawab Nadhir yang memang di antara kami berempat dia yang paling kuat agamanya. “Klo kamu, Rin ?”, tanya Yosi kepada Ririn yang paling penakut di antara kami karena memang dia satu-satunya cewek. “Aku rasa hanya halusinasi, psikologis !”, jawab Ririn yang segera ditimpali oleh Nadhir, ”Dasar penakut !”</p>
<p align="justify">“Ngomong-ngomong, aku pernah dengar cerita ini 3 yahun yang lalu, sewaktu kita masih mahasiswa baru”, kataku melanjutkan obrolan yang mulai gayeng. “Ini memang kisah tiga tahun yang lalu”, jawab Ririn. “Kalian tahu nggak, klo sekarang hantu muka rata itu sekarang sudah pindah ke ATM di depan perpus pusat ini ?”, kata Ririn yang membuat kami bertiga terhenyak. “Berarti di sini ?”, tanya Yosi dengan gelisah, karena memang kami sedang ngobrol di bangku tunggu di depan perpus pusat, tepat di sebalah timur ATM yang dibicarakan. “Sumpah loe, kamu serius, Rin ?”, tanyaku yang hampir mirip terdengar seperti membentak. Ririn mengangguk dan kami semua terdiam. Walaupun belum malam, ini jam 7 malam yang berarti sebentar lagi perpus akan tutup.</p>
<p align="justify">“Kalian belum pulang ?” tanya Pak Alim, tukang bersih-bersih perpus yang mulai menyapu teras perpus seperti kebiasaanya menjelang perpus tutup. “Iya pak, bentar lagi kami juga mau pulang”,jawabku sekenanya.</p>
<p align="justify">Sesampainya di kost Ririn, kami melanjutkan diskusi yang tadi terputus. “Bagaimana klo kita coba buktikan keberadaan Hantu Muka Rata ini ?”, celetuk Nadhir. “Kamu gila ya ? cari perkara saja”, timpal Ririn kesal. “Aku serius, gimana ?”, jawab Nadhir yang diiringi ajakan menempuh bahaya. Sejenak kami terdiam, hanyut pada pikiran masing-masing. Namun tak berapa lama kemudian Yosi berkata : “Aku mau !” Cepat-cepat aku menimpali “Aku juga !” “Bagaimana dengan kamu, Rin ?”, tanya Nadhir membuyarkan lamunan Ririn. “Okelah aku ikut.”, jawab Ririn agak terpaksa. “Baiklah sekarang kita pulang ke kost masing-masing, besok seusai kuliah Teori Relativitas Umum, kita ngobrol lagi tentang persiapan kita. Tempat berkumpul di perpus jurusan, bagaimana ?”, kataku mengakhiri pembicaraan di kost Ririn. Semua mengangguk setuju.</p>
<p><strong>bersambung . . .</strong></p>
<p align="right">Dedicated for <a href="http://www.light19.com/" target="_blank">Light Intermutimedia</a><br />
Perusahaan Software Pulsa</p>
<img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/handarusakti.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/handarusakti.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/handarusakti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/handarusakti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/handarusakti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/handarusakti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/handarusakti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/handarusakti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/handarusakti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/handarusakti.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/handarusakti.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/handarusakti.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=handarusakti.wordpress.com&blog=1508088&post=3&subd=handarusakti&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://handarusakti.wordpress.com/2007/08/12/hantu-muka-rata-part-i-ikip-negeri-malang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/66a23015ed4c8c71131111ff4d11c4f6?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">handarusakti</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>