My NoBlog [Novel on Blog]

Novel Dariku

Archive for the ‘Petualangan’ Category

Disorder World Part IV

without comments

Alliance of Indonesia-India

“Pindahkan semua data yang kamu anggap penting ke flash disk ini !” perintah Tamara kepada Handaru. “Kenapa ?” tanya Handaru kebingungan. “Tinggal saja laptop bututmu di hotel ini, sambungkan ke hot spot WiFi hotel ini dan atur cron-nya satu jam dari sekarang untuk browsing ke situs pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang, jangan lupa uninstall program client trojan yang program servernya sempat kamu tanamkan ke server mereka. Musnahkan semua data dan program aplikasi yang kamu anggap penting. Jangan ada yang tersisa, mengerti ?” “Gak !” jawab Handaru ketus. Menyaksikan ‘pertengkaran’ dua anak muda keras kepala ini, kakek Handaru menengahi, “Handaru, barusan Tamara menerima telepon dari Bapak Presiden, rencana awal menghapus ‘keisenganmu’ di server pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang secara diam-diam dan melempar kesalahanannya pada anomali Google dari Light Camp dirubah. Bapak presiden menginginkan agar dibuat kesan yang menjebol server itu memang orang Indonesia tetapi ada kerjasama dengan pihak Monarki India. Apalagi kunjungan rahasia Bapak Presiden ke India kemarin sudah terendus agen rahasia Kekaisaran Jepang.” “Lalu ?” tanya Handaru semakin bingung. “Maksudnya, Bapak Presiden ingin memaksa Monarki India bersekutu dengan kita dalam rangka menghadapi aliansi Jepang-China.” jelas kakek Handaru. “Selamat datang di belantara politik percaturan dunia baru, pendekar 212 Wiro Sableng !” ledek Tamara.

Betul saja, satu setengah jam berikutnya, dari kereta bawah laut, melalui televisi satelit J-Net disiarkan bahwa telah dilakukan penggerebekan sebuah hotel oleh agen rahasia Kekaisaran Jepang tanpa izin dari Monarki India sehingga memicu ketengan kedua pihak. Dilaporkan pula bahwa hanya ditemukan sebuah laptop yang teridentifikasi sebagai laptop Mac butut yang dikenali milik hacker dengan nickname Handaru yang diduga adalah agen rahasia Republik Indonesia Raya yang beberapa saat yang lalu sempat mencoba membobol server pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang. Pemerintah Jepang menduga hacker Handaru ini difasilitasi oleh Monarki India karena salah satu alihan IP yang digunakan teridentifikasi sebagai IP resmi Departemen Pertahanan Monarki India. “Kamu pasti yang melakukannya ?” tuduh Handaru pada Tamara. Yang dituduh hanya tersenyum simpul.

“Sudahlah, kalian berdua tidurlah selagi sempat, karena barusan Bapak Presiden mengirim SMS kepadaku bahwa kita ditunggu beliau di Palangkaraya. Jadi sesampainya di Surabaya, kita diminta langsung ke Juanda, ada jet khusus yang telah parkir di sana. Bapak Presiden juga meminta kita menyamar karena banyak agen rahasia Kekaisaran Jepang yang dibantu Komunis China yang mengejar kita. Namun sepertinya mereka masih berkutat di India, gara-gara ide briliant Tamara yang meminta meninggalkan laptop bututmu itu.”

Mengingat laptop kesayangannya yang sekarang pasti sedang ‘diuprek’ oleh para agen rahasia Kekaisaran Jepang, tak kuasa tampang sedih bergelayut di wajah Handaru. Bagaimana pun juga, laptop itulah yang dengan setia menemani malam-malam yang dilaluinya sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua. Suka dan duka telah mereka lewati bersama. Handaru nyaris tidak membutuhkan telepon. Kalau pun kangen dengan ibunya, maklum Handaru adalah hacker tipe ‘anak mama’, mereka lebih banyak chatting atau video conferrence atau via internet phone yang kesemuanya tidak membutuhkan alat yang namanya telepon, hanya laptop dan jaringan hot spot WiFi yang tersedia gratis hampir di setiap sudut kota Palangkaraya.

“Sudahlah, nanti kakek belikan yang baru.” kata kakek Handaru seolah-olah bisa membaca lamunan sang cucu. “Kakek benar-benar nggak ngerti sejarah laptop itu !” gerutu Handaru. “Halah, sok melankolis kamu !” sergah sang kakek. “Tamara kode R1 sudah kamu aktifkan ?” tanya kakek Handaru pada Tamara. “Sudah komandan pertama !” jawab Tamara tegas. Kode R1 adalah kode yang memberitahukan kepada semua agen rahasia Republik Indonesia Raya di seluruh dunia bahwa pada radius 100 kilometer dari rute yang ditempuh pemberi kode pada sistem GPS agen rahasia, agar memberikan dukungan pengamanan maksimal kepada yang bersangkutan setara dengan pengamanan R1 alias Presiden.

“Walau begitu, kita tetap harus waspada. Kalian tidurlah, biar aku yang berjaga duluan.” perintah kakek Handaru.

Begitulah, setiba di Surabaya, kami langsung ke bandara Juanda dan terbang ke Palangkaraya dengan pesawat jet khusus kepresidenan RI 2. Kami memang telah diberitahukan atas keberadaan jet khusus di bandara Juanda, namun kami bertiga tak menduga kalau yang dimaksudkan oleh bapak Presiden adalah jet khusus kepresidenan RI 2 yang biasa dugunakan oleh Wakil Presiden hanya dalam kondisi darurat. Jangankan aku, kakek dan Tamara pun tidak kalah kagetnya. “Tamara, kalau dibandingkan dengan jet yang kau gunakan untuk ‘menculikku’ tempo hari, apa sama canggihnya ?” tanyaku pada Tamara yang belum sepenuhnya lepas dari keterkejutannya. “Oh, jet itu…adalah jet tercanggih yang dimiliki oleh ITA, namun kalau dibandingkan dengan jet khusus kepresidenan RI 1 dan RI 2 ini, dia gak ada apa-apanya. Jet ini bukan hanya jet kepresidenan, namun jet khusus kepresidenan” jawab Tamara. “Paduan antara kenyamanan dan keamanan tertinggi adalah kalimat yang agaknya bisa mewakilinya.” kata kakek menimpali. “Kakek dan Tamara belum pernah naik pesawat ini ?” tanyaku. “Hanya Paspampres unit khusus yang berhak melakukan pengamanan RI 1 dan RI 2 di dalam pesawat ini. Ibu negara dan ibu wakil presiden yang sekarang belum sekali pun menaiki kedua jet khusus ini.” jawab kakek. Benar saja, di dalam pesawat itu tergelar aneka perangkat yang bukan saja lux, tapi juga canggih. “Impresif, namun yang paling hebat dari pesawat ini adalah selubung plasma virtual di sekujur badan pesawat yang yang tak mengijinkan bukan hanya peluru kendali, tapi sebutir debu pun yang menempel di badan pesawat. Selubung ini berfungsi juga melenyapkan diri dari layar radar musuh.” kata Tamara penuh kekaguman.

Sesampainya kami di Palangkaraya, Paspampres langsung menghadapkan kami pada Presiden. “Sekali lagi saya meminta maaf pada bapak Presiden atas semua kekisruhan ini !” kata kakek. “Oh tidak Mr. Handaru, selalu saja ada hikmah di balik suatu kejadian. Berkat ini semua, India setuju mengikat aliansi dengan kita.” jawab Presiden yang membuat dadaku terasa agak lega. “Untuk selanjutnya, saya mohon pada Mr. Handaru sudi ‘meminjamkan’ cucu Anda untuk kita libatkan pada satu unit kecil khusus intelejen gabungan dari beberapa unit intelejen negeri ini. Tentu saja dalam hal ini dia mewakili ITA bersama Tamara, bagaimana ?” tanya bapak Presiden pada kakek. “Siap pak, sebaiknya memang begitu. Kalau cucu saya ini ‘dilepas’ begitu saja, dia bukan saja menjadi incaran para agen asing, namun dia juga tidak bisa belajar bertanggung atas perbuatannya.” jawab kakek. “Mohon maaf bapak Presiden, bagaimana dengan kuliah saya ?” tanyaku dengan lugunya. Presiden, kakek dan Tamara, serempak ketiganya tersenyum simpul.

bersambung…

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

September 9, 2007 at 3:23 pm

Ditulis dalam Petualangan

Disorder World Part III

without comments

About Tamara

“Makanan India enak tapi pedas, tapi bagimu yang doyan pedas, kakek rasa tidak menjadi masalah.” kata kakek Handaru pada cucunya yang bimbang menatap makanan yang terhidang di hadapannya. “Dan satu lagi, hidangan ala India di hotel ini adalah yang terenak di seluruh India.” tambah Tamara yang ikut nimbrung. “Memangnya kamu sudah sering ke India ?” tanyaku dengan nada sedikit mengejek. “Handaru, Tamara ini adalah komandan ITA, jadi jangankan India, tidak ada sejengkal pun tanah di dunia ini yang belum pernah diinjaknya. Tidak seperti kamu, yang hanya berkutat di ruang server kampusmu dan setiap bulan menunggu kiriman uang dari bapakmu, oh…ya, bagaimana kabar bapak dan ibumu ?” “Bapak dan ibu sehat, kakek…kabar nenek gimana ? Aku kangen.” jawab Handaru sendu. “Sudahlah, jangan berpura-pura, kangen nenekmu atau tambahan uang saku darinya ?” sindir sang kakek. Maka derai tawa Tamara pun tak terbendung lagi menyaksikan ulah kakek dan cucunya ini.

“Ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian, kenapa Tamara memanggil kakek sebagai komandan pertama ?” Maka berceritalah kakek Handaru bahwa dirinya sebenarnya adalah komandan ITA pertama yang salah satu anak buahnya adalah ayah Tamara. Namun pada suatu operasi rahasia yang terbongkar di China, ayah Tamara tewas tertembak dalam baku-tembak di Hongkong. Singkat cerita, rupanya Tamara mewarisi kemampuan ayahnya dalam dunia spionase digital. Setelah lulus dari National Institute of Technology India, kakek Handaru merekutnya sebagai agen. Lima tahun berselah, masa jabatan kakek Handaru berakhir dan Tamara yang menggantikannya sebagai Komandan ITA. Hal ini dimungkinkan karena dalam ITA kemampuan seseorang adalah faktor pertimbangan paling utama dalam penjenjangan karir dan bukan senioritas. “Begitulah kisahnya, anak muda.” ujar kakek Handaru.

“Padahal dia cuma selisih empat tahun lebih tua darimu, lho !?” tembak kakek Handaru kepada cucunya yang terkesima ceritanya perihal Tamara. “Eh….iya…emangnya kenapa ?” jawab Handaru sekenanya. Kakek handaru hanya tersenyum sambil meneruskan makannya. Sementara itu Tamara hanya termenung, rupanya ia teringat ayahnya. Mengetahui ia diperhatikan Handaru, Tamara berkata dengan tergesa-gesa berusaha menutupi perasaannya, “Sepertinya cucu komandan pertama sebentar lagi harus juga masuk ke ITA, kemampuannya menyusup server orang lain perlu diarahkan.” “Ogah, aku gak sudi menjadi agen ITA, apalagi menjadi anak buahmu, komandan kedua.” ledek Handaru. Kakek Handaru dan Tamara hanya tersenyum.

“Baiklah, kamu sudah siap Handaru ?” tanya kakek. “Always.” jawab Handaru yang masih kesal diledeki menjadi anak buah Tamara. Kalau jadi pacar Tamara mungkin dia tidak menolak, tapi kalau jadi anak buah ? entar dulu. Cucu Mr. Handaru Sakti, Chairman Light Intermultimedia, Co ini memang dikenal memiliki ego yang tinggi. Pernah suatu saat mendapat nilai B dalam mata kuliah Kecerdesan Buatan, dan merasa seharusnya mendapat nilai A, maka ditantanglah dosen pengajarnya membuat code langsung di depan kelas dengan tema terserah sang dosen. Akhirnya sang dosen menyerah dan memberinya nilai A. “Baiklah kita naik kereta bawah laut.” kata Tamara.

“Kereta bawah laut ?” . . .

bersambung . . .

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 11:55 am

Ditulis dalam Petualangan

Disorder World Part II

without comments

Strained Situation

“Ini dia jagoan kita !” seloroh lelaki paruh baya berwajah tegar yang dipundaknya diamanatkan nasib republik ini. Negara yang dalam posisi strategisnya saat ini merupakan salah satu kutub dari empat kutub tata dunia baru. Namun sebenarnya lebih tepat jika disebut tiga kutub berseberangan karena Kekaisaran Jepang dan Komunis China sepakat membentuk aliansi dan masih ada India di kutub yang lain yang masih menemukan beberapa kendala dalam usaha membangun persekutuan dengan Indonesia Raya. Persekutuan antara Kekaisaran Jepang dan Komunis China sebenarnya tidak terlalu kuat karena didasarkan pada kepentingan atas penguasaan akses sumber-sumber energi dan otak-otak cerdas yang merupakan kebutuhan vital era industri baru saat ini, sehingga setiap saat bisa saja pecah apalagi psikologis sejarah yang kurang mendukung karena di masa lalu Jepang pernah menjajah China.

“Bapak presiden, ini Handaru Jr, cucu dari Mr. Handaru Sakti, Chairman Light Intermultimedia, Co. dan Handaru, seperti yang kau tahu, beliau adalah bapak presiden kita.” kata Tamara memperkenalkan kami masing-masing. Sambil berjabat tangan, Handaru menyapa : “Mr. presiden, maafkan saya yang telah merepotkan Anda !”

“Bukan hanya aku, bahkan bukan hanya negara kita yang yang kau buat kalang-kabut, namun segenap konstalasi tata dunia baru kita saat ini sedang bersitegang.” jawab sang Presiden dengan sangat jelas namun terasa tenang untuk urusan yang segawat itu. “The last world war bisa saja terjadi.” imbuh sang presiden. “Namun semua bisa dicegah jika aku mengabulkan permintaan mereka agar menyerahkan kamu dan menjamin bahwa segala informasi perihal aktivitas penyusupanmu ke server data intelegen Kekaisaran Jepang tidak ada yang bocor.” kata presiden. Sontak Handaru menjawab, “Kalau begitu serahkan saja saya kepada mereka !” Sambil tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepada Tamara, sang presiden berkata lirih, “Benar-benar anak kemarin sore.”

“Baiklah anak muda, kita ke ruang sebelah, agaknya kakekmu telah tiba !” “Kakek ? di sini ?”

“Maafkan ulah cucu saya bapak Presiden, saya akan bawa dia ke Light Camp di Malang, karena di sana seperti pulau terpencil yang sama sekali tidak akan diduga pihak Kekaisaran Jepang. Lagi pula kami memiliki saluran aman yang tidak pernah terdeteksi keberadaannya hingga saat ini. Di samping itu, di sana berkumpul 350 ‘ilmuwan komputer’ handal yang siap membantunya menerobos sistem basis data intelejen Kekaisaran Jepang dan membuat jejak yang ditinggalkan oleh cucuku ini terlihat seperti anomali algoritma program mereka sendiri. Atau kita bisa saja melimpahkan kesalahan ini kepada Google.”

“Baiklah kalau begitu Mr. Handaru, bawalah 50 orang ITA dibawah kendali Tamara !” jawab Presiden.

“Dengan segala hormat, tidak perlu bapak Presiden, kalau boleh saya meminta biar Tamara saja yang bersama kami kembali ke Indonesia !” kata kakek Handaru. Presiden berwibawa itu hanya mengangguk lalu berkata pada Tamara, “Tamara, aku percayakan urusan kakek dan cucunya ini kepadamu !” “Siap, pak !” jawab Tamara tegas.

“Kalau begitu, aku akan menemui raja India di Istana Taj Mahal sekarang, kolonel, apakah mobilku sudah siap ?”

Seorang kolonel yang kelak di kemudian hari baru aku ketahui bahwa dia adalah komandan Paspampres dengan sigap memberikan hormat dan menjawab, “Siap, pak !”.

Selepas presiden meninggalkan ruangan ini dan hanya menyisakan kami bertiga di ruangan ini, kakek Handaru berkata pada Tamara, “Kita kembali dulu ke hotel !”. “Siap, komandan pertama !” jawab Tamara yang bagi Handaru Jr. terdengar aneh.

“Komandan pertama ? di mana aku sekarang ? India ?” berpuluh-puluh pertanyaan berputar di kepala Handaru Jr meminta jawaban.

“Ya, kita di India dan aku tahu kalau kamu lapar.” kata kakek Handaru seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala cucunya. Dan Tamara hanya menanggapinya dengan seulas senyum tersungging dibibirnya.

bersambung . . .

Catatan :

  • Sebaiknya Anda membaca ini, agar lebih tahu alur dan latar belakang cerita serta beberapa istilah sebelumnya.
  • Google adalah mesin pencarian di internet yang paling populer, perusahaan ini milik pemerintah komunis China hasil akuisisi dua dekade silam dari apa yang dulu disebut sebagai negara Amerika Serikat. Google adalah salah satu dari sedikit sisa kejayaan Amerika.

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 5:47 am

Ditulis dalam Petualangan

Disorder World

without comments

Prologue

2056 — Tata dunia baru dikendalikan oleh empat poros utama : Kekaisaran Jepang, Monarki India, Komunis China dan Indonesia Raya. China dan Jepang saling mengikat diri dalam persekutuan dalam rangka penguasaan atas sumber energi untuk kepentingan industri mereka dan perburuan otak-otak cerdas di setiap jengkal bagian dunia. Monarki India menolak ajakan Indonesia Raya dalam menghadapi aliansi Jepang-China karena kebijakan militer Indonesia Raya dalam menangani pemberontakan etnik Hindu di Bali. Konstalasi kekuatan dunia yang terkonsentrasi di Asia, empat pemain utama dalam tiga poros untuk dua penguasaan : sumber energi dan otak-otak cerdas. Amerika Serikat tidak lebih dari sekedar McDonald dan Starbucks, Eropa hanya menyisakan restoran Perancis dan sphagetti Italia. Inggris Raya hanya disibukkan dengan liga sepak bolanya. Ya, dunia akhirnya berada dalam rengkuhan filosofi timur yang luhur namun saling berseteru.

Intruder

Palangkaraya, ibukota Indonesia Raya. Rabu, 2 Januari 2056. Handaru, mahasiswa semester tujuh jurusan Computer Physics, Mahakam Institute of Technology (MIT), terjaga hingga jam 3 dini hari, menunggu result atas trojan yang berhasil dia tanamkan di server pusat data badan intelejen Kekaisaran Jepang. Blink, popup chatroom-nya berkedip :

chat3.png

“Bandara ? bagaimana dia mengenaliku ? apa benar dia ITA ? gak ada pilihan, aku harus ke bandara.” Hanya dengan membawa laptop Mac kesanyangannya dengan tas ransel butut-nya, Handaru pergi ke bandara naik motor Honda ‘Strugle‘ Tiger, motor produk Kekaisaran Jepang yang memikat hatinya karena dia merasa ‘gagah’ dengan menungganginya, satu-satunya sisi maskulin yang masih tersisa dari dirinya, karena telah ‘menghabiskan’ hidupnya hanya di depan mesin yang dikenal dengan komputer server di kampusnya, atau kalau nggak dengan laptop Mac-nya yang setiap saat dapat terkoneksi dengan server di kampusnya itu. Gerbang masuk bandara dijaga segerombol tentara, tunggu, dari baret yang mereka kenakan mereka adalah Kopassus. Ada apa ? kenapa bukan dari prajurit dari Angkatan Udara seperti biasanya ?

Antrian mobil yang mau masuk bandara lumayan panjang, tapi para tentara itu tidak mau membuang waktu, mereka mendatangi mereka termasuk … aku. “Anda Handaru ?”, tanya seorang Kopassus kepadaku. “Ya.”, jawabku singkat kerena heran dari mana dia tahu namaku ? “Ok, Anda ikut saya !” ajaknya, atau lebih tepatnya paksanya. “Lapor komandan, target sudah ditemukan, mohon ijin segera dijemput !” lapor si Kopassus kepada komandannya melalui alat komunikasi internal mereka, tak seberapa lama kemudian, dari arah gerbang keluar bandara meluncur tiga buah Jip militer mendekati kami, “Masuk ke Jip yang tengah !,” perintah si Kopassus tadi. Dengan masih menyimpan seribu satu pertanyaan aku menuruti perintahnyanya. Segera aku dibawa ke landasan pacu dimana sebuah jet canggih telah menungguku. “Silahkan naik, mohon maaf atas ketidaknyamanan yang telah anda rasakan” kata si Kopassus. “Akhirnya sisi humanis tentara keluar juga,” pikirku. Aku hanya bisa tersenyum dan melangkah menaiki tangga jet yang telah menungguku dengan deru mesin yang memengkak-kan telinga.

“Hello Handaru !” sapa seseorang melalui pengeras suara stereo yang ada dalam pesawat yang mengagetkanku karena terkesima dengan semua kecanggihan yang ada dalam jet ini. Perlahan layar datar turun dari atap pesawat tepat di depanku. Wajah seorang wanita cantik dengan mata biru dan rambut hitam yang panjang bergelombang tampak di depan mataku. Sejenak, tak ada apa pun yang aku bisa lakukan selain terkesima seperti terhipnotis. Seulas senyum manis terkembang, “Hello !” katanya. “Yup, maaf !” jawabku tergagap. “Namaku Tamara, ITA” ujarnya memecah kebekuan. “Ok, aku Handaru, kamu sudah tahu, kan ?” tanyaku. “Tentu, superhero yang nge-hack server pusat data spionase Kekaisaran Jepang dengan realname dan dari server kampusnya.” ledek-nya. “Oya ! bagaimana dengan server kampusku yang aku gunakan ?” tanyaku. Server ini sebenarnya adalah server backup dari web server institute, karena fungsinya hanya sebagai backup, maka sering aku gunakan untuk ‘keperluan lain’, seperti malam ini. Kebetulan aku adalah salah satu mahasiwa anggota tim developer web server kampus. “Tenang, sudah aku bereskan, jagoan !” jawabnya. “Bagaimana kamu bisa masuk ? aku sendiri yang bikin enskripsi login-nya, kamu bisa menerobosnya ?” tanyaku penasaran. “Gak, aku telepon rektor kamu dan minta agar server kampusmu di-shutdown, cabut listriknya !” jawabnya. “Wow … !!!??”, pikirku, wanita kuasa macam apa dia sehingga bisa memerintahkan rektorku ‘mematikan’ server pada dini hari begini. “Ok, cowboy ulahmu telah membangunkan semua orang penting negeri ini karena resiko konfrontasi dengan Kekaisaran Jepang, bahkan dua pesawat tempur F56 harus mengawalmu, presiden saja tidak pernah mendapatkan pengawalan seperti itu, lihat ke jendela !”. Astaga, dua pesawat tempur tercanggih saat ini, F56, benar-benar mengawal jet ini. Aku hanya bisa terpaku. “OK, hacker, istirahatlah jika bisa, kamu boleh ambil coke atau yang lainnya asalkan jangan wine, kerena kamu belum cukup umur. Kita akan bertemu presiden.” katanya mengakhiri pembicaraan. “Presiden ?”

bersambung . . .

Catatan : ITA (Information Technology Agency) lembaga spionase yang paling berpengaruh di Indonesia Raya bahkan dunia baru yang telah tunduk pada teknologi informasi.

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 5:45 am

Ditulis dalam Petualangan