Archive for September 2007
Disorder World Part IV
Alliance of Indonesia-India
“Pindahkan semua data yang kamu anggap penting ke flash disk ini !” perintah Tamara kepada Handaru. “Kenapa ?” tanya Handaru kebingungan. “Tinggal saja laptop bututmu di hotel ini, sambungkan ke hot spot WiFi hotel ini dan atur cron-nya satu jam dari sekarang untuk browsing ke situs pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang, jangan lupa uninstall program client trojan yang program servernya sempat kamu tanamkan ke server mereka. Musnahkan semua data dan program aplikasi yang kamu anggap penting. Jangan ada yang tersisa, mengerti ?” “Gak !” jawab Handaru ketus. Menyaksikan ‘pertengkaran’ dua anak muda keras kepala ini, kakek Handaru menengahi, “Handaru, barusan Tamara menerima telepon dari Bapak Presiden, rencana awal menghapus ‘keisenganmu’ di server pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang secara diam-diam dan melempar kesalahanannya pada anomali Google dari Light Camp dirubah. Bapak presiden menginginkan agar dibuat kesan yang menjebol server itu memang orang Indonesia tetapi ada kerjasama dengan pihak Monarki India. Apalagi kunjungan rahasia Bapak Presiden ke India kemarin sudah terendus agen rahasia Kekaisaran Jepang.” “Lalu ?” tanya Handaru semakin bingung. “Maksudnya, Bapak Presiden ingin memaksa Monarki India bersekutu dengan kita dalam rangka menghadapi aliansi Jepang-China.” jelas kakek Handaru. “Selamat datang di belantara politik percaturan dunia baru, pendekar 212 Wiro Sableng !” ledek Tamara.
Betul saja, satu setengah jam berikutnya, dari kereta bawah laut, melalui televisi satelit J-Net disiarkan bahwa telah dilakukan penggerebekan sebuah hotel oleh agen rahasia Kekaisaran Jepang tanpa izin dari Monarki India sehingga memicu ketengan kedua pihak. Dilaporkan pula bahwa hanya ditemukan sebuah laptop yang teridentifikasi sebagai laptop Mac butut yang dikenali milik hacker dengan nickname Handaru yang diduga adalah agen rahasia Republik Indonesia Raya yang beberapa saat yang lalu sempat mencoba membobol server pusat data badan spionase Kekaisaran Jepang. Pemerintah Jepang menduga hacker Handaru ini difasilitasi oleh Monarki India karena salah satu alihan IP yang digunakan teridentifikasi sebagai IP resmi Departemen Pertahanan Monarki India. “Kamu pasti yang melakukannya ?” tuduh Handaru pada Tamara. Yang dituduh hanya tersenyum simpul.
“Sudahlah, kalian berdua tidurlah selagi sempat, karena barusan Bapak Presiden mengirim SMS kepadaku bahwa kita ditunggu beliau di Palangkaraya. Jadi sesampainya di Surabaya, kita diminta langsung ke Juanda, ada jet khusus yang telah parkir di sana. Bapak Presiden juga meminta kita menyamar karena banyak agen rahasia Kekaisaran Jepang yang dibantu Komunis China yang mengejar kita. Namun sepertinya mereka masih berkutat di India, gara-gara ide briliant Tamara yang meminta meninggalkan laptop bututmu itu.”
Mengingat laptop kesayangannya yang sekarang pasti sedang ‘diuprek’ oleh para agen rahasia Kekaisaran Jepang, tak kuasa tampang sedih bergelayut di wajah Handaru. Bagaimana pun juga, laptop itulah yang dengan setia menemani malam-malam yang dilaluinya sebagai mahasiswa yang jauh dari orang tua. Suka dan duka telah mereka lewati bersama. Handaru nyaris tidak membutuhkan telepon. Kalau pun kangen dengan ibunya, maklum Handaru adalah hacker tipe ‘anak mama’, mereka lebih banyak chatting atau video conferrence atau via internet phone yang kesemuanya tidak membutuhkan alat yang namanya telepon, hanya laptop dan jaringan hot spot WiFi yang tersedia gratis hampir di setiap sudut kota Palangkaraya.
“Sudahlah, nanti kakek belikan yang baru.” kata kakek Handaru seolah-olah bisa membaca lamunan sang cucu. “Kakek benar-benar nggak ngerti sejarah laptop itu !” gerutu Handaru. “Halah, sok melankolis kamu !” sergah sang kakek. “Tamara kode R1 sudah kamu aktifkan ?” tanya kakek Handaru pada Tamara. “Sudah komandan pertama !” jawab Tamara tegas. Kode R1 adalah kode yang memberitahukan kepada semua agen rahasia Republik Indonesia Raya di seluruh dunia bahwa pada radius 100 kilometer dari rute yang ditempuh pemberi kode pada sistem GPS agen rahasia, agar memberikan dukungan pengamanan maksimal kepada yang bersangkutan setara dengan pengamanan R1 alias Presiden.
“Walau begitu, kita tetap harus waspada. Kalian tidurlah, biar aku yang berjaga duluan.” perintah kakek Handaru.
Begitulah, setiba di Surabaya, kami langsung ke bandara Juanda dan terbang ke Palangkaraya dengan pesawat jet khusus kepresidenan RI 2. Kami memang telah diberitahukan atas keberadaan jet khusus di bandara Juanda, namun kami bertiga tak menduga kalau yang dimaksudkan oleh bapak Presiden adalah jet khusus kepresidenan RI 2 yang biasa dugunakan oleh Wakil Presiden hanya dalam kondisi darurat. Jangankan aku, kakek dan Tamara pun tidak kalah kagetnya. “Tamara, kalau dibandingkan dengan jet yang kau gunakan untuk ‘menculikku’ tempo hari, apa sama canggihnya ?” tanyaku pada Tamara yang belum sepenuhnya lepas dari keterkejutannya. “Oh, jet itu…adalah jet tercanggih yang dimiliki oleh ITA, namun kalau dibandingkan dengan jet khusus kepresidenan RI 1 dan RI 2 ini, dia gak ada apa-apanya. Jet ini bukan hanya jet kepresidenan, namun jet khusus kepresidenan” jawab Tamara. “Paduan antara kenyamanan dan keamanan tertinggi adalah kalimat yang agaknya bisa mewakilinya.” kata kakek menimpali. “Kakek dan Tamara belum pernah naik pesawat ini ?” tanyaku. “Hanya Paspampres unit khusus yang berhak melakukan pengamanan RI 1 dan RI 2 di dalam pesawat ini. Ibu negara dan ibu wakil presiden yang sekarang belum sekali pun menaiki kedua jet khusus ini.” jawab kakek. Benar saja, di dalam pesawat itu tergelar aneka perangkat yang bukan saja lux, tapi juga canggih. “Impresif, namun yang paling hebat dari pesawat ini adalah selubung plasma virtual di sekujur badan pesawat yang yang tak mengijinkan bukan hanya peluru kendali, tapi sebutir debu pun yang menempel di badan pesawat. Selubung ini berfungsi juga melenyapkan diri dari layar radar musuh.” kata Tamara penuh kekaguman.
Sesampainya kami di Palangkaraya, Paspampres langsung menghadapkan kami pada Presiden. “Sekali lagi saya meminta maaf pada bapak Presiden atas semua kekisruhan ini !” kata kakek. “Oh tidak Mr. Handaru, selalu saja ada hikmah di balik suatu kejadian. Berkat ini semua, India setuju mengikat aliansi dengan kita.” jawab Presiden yang membuat dadaku terasa agak lega. “Untuk selanjutnya, saya mohon pada Mr. Handaru sudi ‘meminjamkan’ cucu Anda untuk kita libatkan pada satu unit kecil khusus intelejen gabungan dari beberapa unit intelejen negeri ini. Tentu saja dalam hal ini dia mewakili ITA bersama Tamara, bagaimana ?” tanya bapak Presiden pada kakek. “Siap pak, sebaiknya memang begitu. Kalau cucu saya ini ‘dilepas’ begitu saja, dia bukan saja menjadi incaran para agen asing, namun dia juga tidak bisa belajar bertanggung atas perbuatannya.” jawab kakek. “Mohon maaf bapak Presiden, bagaimana dengan kuliah saya ?” tanyaku dengan lugunya. Presiden, kakek dan Tamara, serempak ketiganya tersenyum simpul.
bersambung…
Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa