Hantu Muka Rata Part III : Pembuktian
Sudah satu jam sejak pukul 12 malam tadi, aku, Yosi, Ririn dan Nadhir duduk terdiam dengan kecemasan masing-masing di bangku depan perpustakaan pusat dekat ATM yang menghebohkan itu. Sejauh ini tidak terjadi apa-apa. Hanya bayangan hitam sekelebatan dan terpaan angin dingin beraroma mistis yang menyapa kami berempat. Hantu muka rata yang kami tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. “Emang dia punya batang hidung ? Bukankah mukanya rata ?” tanyaku membatin sambil tersenyum. “Kenapa tersenyum ? tanya
Ririn heran. “Gak apa-apa.” jawabku sekenanya.
“Sudah satu jam.” Yosi menyambung percakapan aku dan Ririn. “Aku kebelet pipis.” kata Ririn cengar-cengir. Aku menoleh ke Nadhir yang sejak tadi diam sambil menutup kedua matanya, “Gimana Dhir ? kita balik ?” tanyaku padanya. “Eh, ada apa ? dia sudah datang ?” “Kamu tertidur ya ?” gerutu Yosi. “Siapa bilang aku tertidur ?” jawab Nadhir menghindar. “Ririn kebelet pipis, gimana ? kita kembali ?” tanyaku mengulangi. “Terserah kamu aja, Sak.” jawab Nadhir.
Tiba-tiba datang seorang satpam dari arah kantor pusat, “Siapa kalian ? Ada apa malam-malam begini di sini ? Ini perempuan lagi.” Kaget juga mendapati ‘tamu gak diundang ini’. “Eh, kami panitia ospek pak.” jawabku reflek. “Kami bertiga mengantarkan teman perempuan kami ini ambil uang di ATM ini. Dia bendahara acara ospek di fakultas kami, MIPA.” jawab Yosi membohongi satpam itu. Memang saat ini adalah masa ospek mahasiswa baru. Setiap bertepatan dengan masa ospek, selalu tepat saat musim pancaroba dari penghujan ke kemarau. Pada saat-saat seperti sekrang ini, dinginnya Kota Malang seperti menusuk-nusuk tulang. Tapi kami berempat sama sekali bukan panitia ospek. “Ya sudah. segera kembali ambil uang dan kembalilah ke fakultas kalian.” Sebenarnya letak Fakultas MIPA hanya berseberangan jalan dengan perpustakaan pusat ini. Namun dari sini suasananya sep sekali, mungkin para panitia ospek yang beneran sedang beristirahat setelah seharian mengembleng mahasiswa baru. “Ayo sana !” perintah satpam berkumis tebal ini. Ririn kebingungan dan pura-pura masuk ke ruang kaca ATM ini, mengeluarkan KTM-nya yang juga ATM BNI, pura-pura mengambil uang, lalu keluar lagi. Ternyata satpam ini menunggui kami. Kontan aku, Yosi dan Nadhir dibuatnya kikuk. “ATM-nya rusak.” kata Ririn sejurus kemudian setelah keluar dari ruang ATM itu. “Biar saya cek pakai ATM BNI saya saja.” kata si satpam ini sambil berkata, “Walaupun satpam, saya juga punya ATM.” kata si satpam pamer. Yosi nyeletuk, “KTS ya pak ?” “Apa itu KTS ?” tanya pak satpam kebingungan. “Kartu Tanda Satpam.” jawab Yosi meledek. Pak satpam itu gak memperdulikannya lalu masuk ke ruang ATM itu tanpa menutup pintunya. Kami berempat kembali duduk ke bangku semula dan merencanakan melarikan diri sebelum satpam itu tahu kalau sebenarnya ATM-nya gak rusak. Namun tiba-tiba kami mendengar terikan tergagap, “Han…han…han…tuuuuuuuuuuu !!!!!” rupanya asal suara dari pak satpam itu. Ketakutan mencekam membuat wajahnya pusat pasi. Sementara di depan ruang ATM berdiri sesosok orang dengan rambut panjang berjubah putih. Kontan kami bertiga lari tunggang langgang.
Keesokan harinya kami mendengar berita bahwa pak satpam yang tadi malam itu ditemukan temannya tergeletak pingsan di ruang ATM BNI depan perpustakaan pusat.
bersambung . . .
Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa
masa c????
koq britanya kagak heboh ya???
gw anak FIA pariwisata 2005.koq ga ada slentingan kyk bginian ya?
wilz
Agustus 29, 2007 at 5:57 pm
@Wilz,
Kisah ini hanya fiksi alias rekaan semata bos.
handarusakti
September 9, 2007 at 3:31 pm
Aku enggak disertakan ya…
He..he……
Rahmat (suaminya Ririn) ikut serta enggak….?
Nanti jadi rame kalo enggak disertakan….
Whuahahahaaa……
Menurut Handaru,
otto13
Mei 20, 2008 at 3:36 am