Hantu Muka Rata Part II : ATM BNI Depan Perpus Unibraw
“Din, ini gimana ?” tanya Lita kepada Dini temannya satu kamar di kos-kos-an Watugong 19. “Yang jelas kamu memang harus transfer malam ini juga untuk biaya pengobatan adik kamu yang kecelakaan tadi sore di Jogja, kalau tidak adik kamu tidak bisa mendapatkan perawatan, baru besok pagi kita ke Jogja untuk melihat keadaanya di rumah sakit,” jawab Dini berusaha menenangkan sahabatnya. “Itu masalahnya, teman kos sekamar adik aku yang juga teman kuliahnya di Fisip UGM punyanya hanya ATM BNI. Sama dengan kita, Kartu mahasiswa sekaligus ATM, dasar pendidikan kapitalis !”, gerutu Lita yang walaupun keadaan genting tetap saja naluri “pemberontak” dari jiwa aktivisnya muncul. ”Berarti kan tidak ada masalah ? ATM teman adikmu satu bank dengan ATM kita. Maaf, apa doku kamu nge-pres ? aku ada kok !” kata Dini. “Gak, aku ada uang kok, masalahnya hanya ada 2 ATM BNI yang dekat dari sini, pertama ATM BNI di Soekarno Hatta, berarti masih jauh juga kan kalau jalan kaki dari sini ? dan yang kedua kamu tahu sendiri ATM BNI di depan perpus pusat.” jelas Lita.
Seketika wajah Dini pucat masam. Ya, semua tahu dengan kabar burung hantu muka rata di ATM BNI di depan perpus. “Gimana ?” tanya Lita membuyarkan lamunan Dini yang membayangkan cerita-cerita seram teman-temannya angkatan 1994 FIA Unibraw perihal si hantu muka rata ini. Ketakutannya bertambah ketika membayangkan harus melintasi jalan-jalan kampus yang lengang apalagi pada jam 10 malam seperti sekarang ini. Ditambah lagi di kanan-kirinya pepohonan yang rimbun. ”Hm, apa boleh buat, kita ke ATM BNI depan perpus aja.” tegas Dini. “Kamu yakin ?” tanya Lita. “Ya . . .,” jawab Dini sambil mengangguk namun ragu.
Maka berangkatlah mereka berdua dengan perasaan yang masih diliputi kegalauan karena adik Lita yang tertimpa musibah kecelakaan walaupun menurut temanya tidak parah. Ada juga desiran rasa takut bila kulit mereka merasakan tiupan dingin angin malam musim kemarau kota Malang. Bulu kuduk mereka berdiri ketika melihat banyangan pepohonan yang terkadang terlihat seprti kelebat hantu. Dini berusaha menggengam tangan sahabatnya dengan harapan sahabatnya tidak takut dan berjuang menenangkan hati demi adiknya walaupun Dini sendiri sebenarnya juga tidak bisa lepas dari lamunannya tentang si hantu muka rata.
“Gedebuk !” suara aneh datang dari sisi belakang fakultas Kedokteran yang diiringi dengan sekelebatan bayangan hitam. Hampir saja kedua teman akrab ini mengambil langkah seribu. Ruang belakang fakultas Kedokteran dekat garasi mobil universitas konon dipakai sebagai ruang penyimpanan mayat yang akan digunakan untuk praktek bedah anak-anak kedokteran. Banyak mahasiswa yang menemui fenomena ganjil bila melintas di daerah ini pada malam hari terutama anak-anak kedokteran dan MIPA.
Dengan tetap menguatkan tekad, keduanya berjalan cepat ke depan perpus pusat. Sesampainya di depan ATM BNI, keduanya harus menunggu karena ada cewek yang rupanya butuh ke ATM juga malam-malam begini. “Mungkin dia juga dalam keadaan darurat kayak kita,” kata Dini kepada Lita. Selang 5 menit cewek ini tidak kunjung keluar juga dari ATM. “Jangan-jangan ….?” bisik Lita pada sahabatnya. “Gak mungkin, kakinya menginjak tanah dan masak hantu pakai jeans ?” sergah Dini. Lita-pun tersenyum.
Untuk mencairkan suasana kedua sahabat ini berusaha ngobrol perihal adiknya Lita. Selang tak seberapa lama, cewek tadi keluar dan mengomel, “Sialan !” Mendengar umpatan ini, secara refleks Dini manyahutinya, ”Kenapa mbak ? ATM-nya rusak ?” ”Gak, cuma . . .” kata cewek ini sambil berbalik dan menyibak rambutnya. Seperti disihir Dini dan Lita terpaku dengan air muka ketakutan.
“Kenapa ? dia hantu muka rata ?” tanya Nadhir penasaran pada Ririn yang bercerita tentang teman satu kosnya Dini dan Lita ketika kami berkumpul di perpus jurusan untuk membahas rencana membuktikan keberadaan hantu muka rata yang konon sering muncul di ATM BNI di depan perpus pusat. “Ya, beruntung aku tidak mereka ajak waktu itu.” jawab Ririn yang merinding bila mengingat cerita kedua temannya ini. “Oke, gimana ? nanti malam jadi kita membuktikan keberadaan si hantu muka rata ini malam nanti ?” kataku kepada ketiga temanku yang di Fisika lebih dikenal sebagai ”Geng Fisika Teori” : Nadhir, Yosi dan Ririn. “Tetap jadi dong, siapa takut ?” sergah Yosi.
“Sip kalau begitu begini persiapannya ….., tapi sebentar, bukankah hantu muka rata yang di IKIP itu laki-laki, lalu pindah ke ATM BNI di depan perpus kok berubah jadi cewek ?” tanyaku penasaran. Semua menggeleng. “Oke, kita buktikan aja nanti malam,” celetuk Yosi.
bersambung . . .
Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa
saya mau bertanya…..
kenapa hantu muka rata sering muncul d’ATM BNI
cerita’nya seru banget,,,
aQ penasaran dech gimana akhr kisah Hantu Muka Rata tersebut!!!!!
aq tunggu yach cerita selanjut’nya…..^_^
lia
September 25, 2007 at 8:22 am
@Lia,
Emang ada Hantu Muka Rata di TM selain di Universitas Brawijaya ? Bagi-bagi donk ceritanya !
Ini cerita bersambung, jadi ditunggu aja kelanjutannya.
handarusakti
Oktober 2, 2007 at 7:40 am
serem juga ceritanya mbak…
hanya dengan membaca saja,saya sudah serasa terikut ke dalam cerita itu(bukan sebagai muka rata lho!(^^).Sukses deh buat ceritanya…
Faisal "Cyrus_The_Vyrus" Rizky
Oktober 9, 2007 at 12:10 am
@Faisal “Cyrus_The_Vyrus” Rizky,
Boss, saya cowok, bukan cewek !
handarusakti
Oktober 17, 2007 at 1:08 pm
seremmmmmmmmm……………
novelin
Agustus 2, 2009 at 10:12 am