My NoBlog [Novel on Blog]

Novel Dariku

Archive for Agustus 2007

Hantu Muka Rata Part III : Pembuktian

with 3 comments

Sudah satu jam sejak pukul 12 malam tadi, aku, Yosi, Ririn dan Nadhir duduk terdiam dengan kecemasan masing-masing di bangku depan perpustakaan pusat dekat ATM yang menghebohkan itu. Sejauh ini tidak terjadi apa-apa. Hanya bayangan hitam sekelebatan dan terpaan angin dingin beraroma mistis yang menyapa kami berempat. Hantu muka rata yang kami tunggu belum juga menampakkan batang hidungnya. “Emang dia punya batang hidung ? Bukankah mukanya rata ?” tanyaku membatin sambil tersenyum. “Kenapa tersenyum ? tanya

Ririn heran. “Gak apa-apa.” jawabku sekenanya.

“Sudah satu jam.” Yosi menyambung percakapan aku dan Ririn. “Aku kebelet pipis.” kata Ririn cengar-cengir. Aku menoleh ke Nadhir yang sejak tadi diam sambil menutup kedua matanya, “Gimana Dhir ? kita balik ?” tanyaku padanya. “Eh, ada apa ? dia sudah datang ?” “Kamu tertidur ya ?” gerutu Yosi. “Siapa bilang aku tertidur ?” jawab Nadhir menghindar. “Ririn kebelet pipis, gimana ? kita kembali ?” tanyaku mengulangi. “Terserah kamu aja, Sak.” jawab Nadhir.

Tiba-tiba datang seorang satpam dari arah kantor pusat, “Siapa kalian ? Ada apa malam-malam begini di sini ? Ini perempuan lagi.” Kaget juga mendapati ‘tamu gak diundang ini’. “Eh, kami panitia ospek pak.” jawabku reflek. “Kami bertiga mengantarkan teman perempuan kami ini ambil uang di ATM ini. Dia bendahara acara ospek di fakultas kami, MIPA.” jawab Yosi membohongi satpam itu. Memang saat ini adalah masa ospek mahasiswa baru. Setiap bertepatan dengan masa ospek, selalu tepat saat musim pancaroba dari penghujan ke kemarau. Pada saat-saat seperti sekrang ini, dinginnya Kota Malang seperti menusuk-nusuk tulang. Tapi kami berempat sama sekali bukan panitia ospek. “Ya sudah. segera kembali ambil uang dan kembalilah ke fakultas kalian.” Sebenarnya letak Fakultas MIPA hanya berseberangan jalan dengan perpustakaan pusat ini. Namun dari sini suasananya sep sekali, mungkin para panitia ospek yang beneran sedang beristirahat setelah seharian mengembleng mahasiswa baru. “Ayo sana !” perintah satpam berkumis tebal ini. Ririn kebingungan dan pura-pura masuk ke ruang kaca ATM ini, mengeluarkan KTM-nya yang juga ATM BNI, pura-pura mengambil uang, lalu keluar lagi. Ternyata satpam ini menunggui kami. Kontan aku, Yosi dan Nadhir dibuatnya kikuk. “ATM-nya rusak.” kata Ririn sejurus kemudian setelah keluar dari ruang ATM itu. “Biar saya cek pakai ATM BNI saya saja.” kata si satpam ini sambil berkata, “Walaupun satpam, saya juga punya ATM.” kata si satpam pamer. Yosi nyeletuk, “KTS ya pak ?” “Apa itu KTS ?” tanya pak satpam kebingungan. “Kartu Tanda Satpam.” jawab Yosi meledek. Pak satpam itu gak memperdulikannya lalu masuk ke ruang ATM itu tanpa menutup pintunya. Kami berempat kembali duduk ke bangku semula dan merencanakan melarikan diri sebelum satpam itu tahu kalau sebenarnya ATM-nya gak rusak. Namun tiba-tiba kami mendengar terikan tergagap, “Han…han…han…tuuuuuuuuuuu !!!!!” rupanya asal suara dari pak satpam itu. Ketakutan mencekam membuat wajahnya pusat pasi. Sementara di depan ruang ATM berdiri sesosok orang dengan rambut panjang berjubah putih. Kontan kami bertiga lari tunggang langgang.

Keesokan harinya kami mendengar berita bahwa pak satpam yang tadi malam itu ditemukan temannya tergeletak pingsan di ruang ATM BNI depan perpustakaan pusat.

bersambung . . .

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 26, 2007 at 4:46 pm

Ditulis dalam Misteri

Disorder World Part III

without comments

About Tamara

“Makanan India enak tapi pedas, tapi bagimu yang doyan pedas, kakek rasa tidak menjadi masalah.” kata kakek Handaru pada cucunya yang bimbang menatap makanan yang terhidang di hadapannya. “Dan satu lagi, hidangan ala India di hotel ini adalah yang terenak di seluruh India.” tambah Tamara yang ikut nimbrung. “Memangnya kamu sudah sering ke India ?” tanyaku dengan nada sedikit mengejek. “Handaru, Tamara ini adalah komandan ITA, jadi jangankan India, tidak ada sejengkal pun tanah di dunia ini yang belum pernah diinjaknya. Tidak seperti kamu, yang hanya berkutat di ruang server kampusmu dan setiap bulan menunggu kiriman uang dari bapakmu, oh…ya, bagaimana kabar bapak dan ibumu ?” “Bapak dan ibu sehat, kakek…kabar nenek gimana ? Aku kangen.” jawab Handaru sendu. “Sudahlah, jangan berpura-pura, kangen nenekmu atau tambahan uang saku darinya ?” sindir sang kakek. Maka derai tawa Tamara pun tak terbendung lagi menyaksikan ulah kakek dan cucunya ini.

“Ada yang ingin aku tanyakan kepada kalian, kenapa Tamara memanggil kakek sebagai komandan pertama ?” Maka berceritalah kakek Handaru bahwa dirinya sebenarnya adalah komandan ITA pertama yang salah satu anak buahnya adalah ayah Tamara. Namun pada suatu operasi rahasia yang terbongkar di China, ayah Tamara tewas tertembak dalam baku-tembak di Hongkong. Singkat cerita, rupanya Tamara mewarisi kemampuan ayahnya dalam dunia spionase digital. Setelah lulus dari National Institute of Technology India, kakek Handaru merekutnya sebagai agen. Lima tahun berselah, masa jabatan kakek Handaru berakhir dan Tamara yang menggantikannya sebagai Komandan ITA. Hal ini dimungkinkan karena dalam ITA kemampuan seseorang adalah faktor pertimbangan paling utama dalam penjenjangan karir dan bukan senioritas. “Begitulah kisahnya, anak muda.” ujar kakek Handaru.

“Padahal dia cuma selisih empat tahun lebih tua darimu, lho !?” tembak kakek Handaru kepada cucunya yang terkesima ceritanya perihal Tamara. “Eh….iya…emangnya kenapa ?” jawab Handaru sekenanya. Kakek handaru hanya tersenyum sambil meneruskan makannya. Sementara itu Tamara hanya termenung, rupanya ia teringat ayahnya. Mengetahui ia diperhatikan Handaru, Tamara berkata dengan tergesa-gesa berusaha menutupi perasaannya, “Sepertinya cucu komandan pertama sebentar lagi harus juga masuk ke ITA, kemampuannya menyusup server orang lain perlu diarahkan.” “Ogah, aku gak sudi menjadi agen ITA, apalagi menjadi anak buahmu, komandan kedua.” ledek Handaru. Kakek Handaru dan Tamara hanya tersenyum.

“Baiklah, kamu sudah siap Handaru ?” tanya kakek. “Always.” jawab Handaru yang masih kesal diledeki menjadi anak buah Tamara. Kalau jadi pacar Tamara mungkin dia tidak menolak, tapi kalau jadi anak buah ? entar dulu. Cucu Mr. Handaru Sakti, Chairman Light Intermultimedia, Co ini memang dikenal memiliki ego yang tinggi. Pernah suatu saat mendapat nilai B dalam mata kuliah Kecerdesan Buatan, dan merasa seharusnya mendapat nilai A, maka ditantanglah dosen pengajarnya membuat code langsung di depan kelas dengan tema terserah sang dosen. Akhirnya sang dosen menyerah dan memberinya nilai A. “Baiklah kita naik kereta bawah laut.” kata Tamara.

“Kereta bawah laut ?” . . .

bersambung . . .

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 11:55 am

Ditulis dalam Petualangan

Disorder World Part II

without comments

Strained Situation

“Ini dia jagoan kita !” seloroh lelaki paruh baya berwajah tegar yang dipundaknya diamanatkan nasib republik ini. Negara yang dalam posisi strategisnya saat ini merupakan salah satu kutub dari empat kutub tata dunia baru. Namun sebenarnya lebih tepat jika disebut tiga kutub berseberangan karena Kekaisaran Jepang dan Komunis China sepakat membentuk aliansi dan masih ada India di kutub yang lain yang masih menemukan beberapa kendala dalam usaha membangun persekutuan dengan Indonesia Raya. Persekutuan antara Kekaisaran Jepang dan Komunis China sebenarnya tidak terlalu kuat karena didasarkan pada kepentingan atas penguasaan akses sumber-sumber energi dan otak-otak cerdas yang merupakan kebutuhan vital era industri baru saat ini, sehingga setiap saat bisa saja pecah apalagi psikologis sejarah yang kurang mendukung karena di masa lalu Jepang pernah menjajah China.

“Bapak presiden, ini Handaru Jr, cucu dari Mr. Handaru Sakti, Chairman Light Intermultimedia, Co. dan Handaru, seperti yang kau tahu, beliau adalah bapak presiden kita.” kata Tamara memperkenalkan kami masing-masing. Sambil berjabat tangan, Handaru menyapa : “Mr. presiden, maafkan saya yang telah merepotkan Anda !”

“Bukan hanya aku, bahkan bukan hanya negara kita yang yang kau buat kalang-kabut, namun segenap konstalasi tata dunia baru kita saat ini sedang bersitegang.” jawab sang Presiden dengan sangat jelas namun terasa tenang untuk urusan yang segawat itu. “The last world war bisa saja terjadi.” imbuh sang presiden. “Namun semua bisa dicegah jika aku mengabulkan permintaan mereka agar menyerahkan kamu dan menjamin bahwa segala informasi perihal aktivitas penyusupanmu ke server data intelegen Kekaisaran Jepang tidak ada yang bocor.” kata presiden. Sontak Handaru menjawab, “Kalau begitu serahkan saja saya kepada mereka !” Sambil tersenyum dan mengalihkan pandangannya kepada Tamara, sang presiden berkata lirih, “Benar-benar anak kemarin sore.”

“Baiklah anak muda, kita ke ruang sebelah, agaknya kakekmu telah tiba !” “Kakek ? di sini ?”

“Maafkan ulah cucu saya bapak Presiden, saya akan bawa dia ke Light Camp di Malang, karena di sana seperti pulau terpencil yang sama sekali tidak akan diduga pihak Kekaisaran Jepang. Lagi pula kami memiliki saluran aman yang tidak pernah terdeteksi keberadaannya hingga saat ini. Di samping itu, di sana berkumpul 350 ‘ilmuwan komputer’ handal yang siap membantunya menerobos sistem basis data intelejen Kekaisaran Jepang dan membuat jejak yang ditinggalkan oleh cucuku ini terlihat seperti anomali algoritma program mereka sendiri. Atau kita bisa saja melimpahkan kesalahan ini kepada Google.”

“Baiklah kalau begitu Mr. Handaru, bawalah 50 orang ITA dibawah kendali Tamara !” jawab Presiden.

“Dengan segala hormat, tidak perlu bapak Presiden, kalau boleh saya meminta biar Tamara saja yang bersama kami kembali ke Indonesia !” kata kakek Handaru. Presiden berwibawa itu hanya mengangguk lalu berkata pada Tamara, “Tamara, aku percayakan urusan kakek dan cucunya ini kepadamu !” “Siap, pak !” jawab Tamara tegas.

“Kalau begitu, aku akan menemui raja India di Istana Taj Mahal sekarang, kolonel, apakah mobilku sudah siap ?”

Seorang kolonel yang kelak di kemudian hari baru aku ketahui bahwa dia adalah komandan Paspampres dengan sigap memberikan hormat dan menjawab, “Siap, pak !”.

Selepas presiden meninggalkan ruangan ini dan hanya menyisakan kami bertiga di ruangan ini, kakek Handaru berkata pada Tamara, “Kita kembali dulu ke hotel !”. “Siap, komandan pertama !” jawab Tamara yang bagi Handaru Jr. terdengar aneh.

“Komandan pertama ? di mana aku sekarang ? India ?” berpuluh-puluh pertanyaan berputar di kepala Handaru Jr meminta jawaban.

“Ya, kita di India dan aku tahu kalau kamu lapar.” kata kakek Handaru seolah tahu apa yang sedang berkecamuk di kepala cucunya. Dan Tamara hanya menanggapinya dengan seulas senyum tersungging dibibirnya.

bersambung . . .

Catatan :

  • Sebaiknya Anda membaca ini, agar lebih tahu alur dan latar belakang cerita serta beberapa istilah sebelumnya.
  • Google adalah mesin pencarian di internet yang paling populer, perusahaan ini milik pemerintah komunis China hasil akuisisi dua dekade silam dari apa yang dulu disebut sebagai negara Amerika Serikat. Google adalah salah satu dari sedikit sisa kejayaan Amerika.

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 5:47 am

Ditulis dalam Petualangan

Disorder World

without comments

Prologue

2056 — Tata dunia baru dikendalikan oleh empat poros utama : Kekaisaran Jepang, Monarki India, Komunis China dan Indonesia Raya. China dan Jepang saling mengikat diri dalam persekutuan dalam rangka penguasaan atas sumber energi untuk kepentingan industri mereka dan perburuan otak-otak cerdas di setiap jengkal bagian dunia. Monarki India menolak ajakan Indonesia Raya dalam menghadapi aliansi Jepang-China karena kebijakan militer Indonesia Raya dalam menangani pemberontakan etnik Hindu di Bali. Konstalasi kekuatan dunia yang terkonsentrasi di Asia, empat pemain utama dalam tiga poros untuk dua penguasaan : sumber energi dan otak-otak cerdas. Amerika Serikat tidak lebih dari sekedar McDonald dan Starbucks, Eropa hanya menyisakan restoran Perancis dan sphagetti Italia. Inggris Raya hanya disibukkan dengan liga sepak bolanya. Ya, dunia akhirnya berada dalam rengkuhan filosofi timur yang luhur namun saling berseteru.

Intruder

Palangkaraya, ibukota Indonesia Raya. Rabu, 2 Januari 2056. Handaru, mahasiswa semester tujuh jurusan Computer Physics, Mahakam Institute of Technology (MIT), terjaga hingga jam 3 dini hari, menunggu result atas trojan yang berhasil dia tanamkan di server pusat data badan intelejen Kekaisaran Jepang. Blink, popup chatroom-nya berkedip :

chat3.png

“Bandara ? bagaimana dia mengenaliku ? apa benar dia ITA ? gak ada pilihan, aku harus ke bandara.” Hanya dengan membawa laptop Mac kesanyangannya dengan tas ransel butut-nya, Handaru pergi ke bandara naik motor Honda ‘Strugle‘ Tiger, motor produk Kekaisaran Jepang yang memikat hatinya karena dia merasa ‘gagah’ dengan menungganginya, satu-satunya sisi maskulin yang masih tersisa dari dirinya, karena telah ‘menghabiskan’ hidupnya hanya di depan mesin yang dikenal dengan komputer server di kampusnya, atau kalau nggak dengan laptop Mac-nya yang setiap saat dapat terkoneksi dengan server di kampusnya itu. Gerbang masuk bandara dijaga segerombol tentara, tunggu, dari baret yang mereka kenakan mereka adalah Kopassus. Ada apa ? kenapa bukan dari prajurit dari Angkatan Udara seperti biasanya ?

Antrian mobil yang mau masuk bandara lumayan panjang, tapi para tentara itu tidak mau membuang waktu, mereka mendatangi mereka termasuk … aku. “Anda Handaru ?”, tanya seorang Kopassus kepadaku. “Ya.”, jawabku singkat kerena heran dari mana dia tahu namaku ? “Ok, Anda ikut saya !” ajaknya, atau lebih tepatnya paksanya. “Lapor komandan, target sudah ditemukan, mohon ijin segera dijemput !” lapor si Kopassus kepada komandannya melalui alat komunikasi internal mereka, tak seberapa lama kemudian, dari arah gerbang keluar bandara meluncur tiga buah Jip militer mendekati kami, “Masuk ke Jip yang tengah !,” perintah si Kopassus tadi. Dengan masih menyimpan seribu satu pertanyaan aku menuruti perintahnyanya. Segera aku dibawa ke landasan pacu dimana sebuah jet canggih telah menungguku. “Silahkan naik, mohon maaf atas ketidaknyamanan yang telah anda rasakan” kata si Kopassus. “Akhirnya sisi humanis tentara keluar juga,” pikirku. Aku hanya bisa tersenyum dan melangkah menaiki tangga jet yang telah menungguku dengan deru mesin yang memengkak-kan telinga.

“Hello Handaru !” sapa seseorang melalui pengeras suara stereo yang ada dalam pesawat yang mengagetkanku karena terkesima dengan semua kecanggihan yang ada dalam jet ini. Perlahan layar datar turun dari atap pesawat tepat di depanku. Wajah seorang wanita cantik dengan mata biru dan rambut hitam yang panjang bergelombang tampak di depan mataku. Sejenak, tak ada apa pun yang aku bisa lakukan selain terkesima seperti terhipnotis. Seulas senyum manis terkembang, “Hello !” katanya. “Yup, maaf !” jawabku tergagap. “Namaku Tamara, ITA” ujarnya memecah kebekuan. “Ok, aku Handaru, kamu sudah tahu, kan ?” tanyaku. “Tentu, superhero yang nge-hack server pusat data spionase Kekaisaran Jepang dengan realname dan dari server kampusnya.” ledek-nya. “Oya ! bagaimana dengan server kampusku yang aku gunakan ?” tanyaku. Server ini sebenarnya adalah server backup dari web server institute, karena fungsinya hanya sebagai backup, maka sering aku gunakan untuk ‘keperluan lain’, seperti malam ini. Kebetulan aku adalah salah satu mahasiwa anggota tim developer web server kampus. “Tenang, sudah aku bereskan, jagoan !” jawabnya. “Bagaimana kamu bisa masuk ? aku sendiri yang bikin enskripsi login-nya, kamu bisa menerobosnya ?” tanyaku penasaran. “Gak, aku telepon rektor kamu dan minta agar server kampusmu di-shutdown, cabut listriknya !” jawabnya. “Wow … !!!??”, pikirku, wanita kuasa macam apa dia sehingga bisa memerintahkan rektorku ‘mematikan’ server pada dini hari begini. “Ok, cowboy ulahmu telah membangunkan semua orang penting negeri ini karena resiko konfrontasi dengan Kekaisaran Jepang, bahkan dua pesawat tempur F56 harus mengawalmu, presiden saja tidak pernah mendapatkan pengawalan seperti itu, lihat ke jendela !”. Astaga, dua pesawat tempur tercanggih saat ini, F56, benar-benar mengawal jet ini. Aku hanya bisa terpaku. “OK, hacker, istirahatlah jika bisa, kamu boleh ambil coke atau yang lainnya asalkan jangan wine, kerena kamu belum cukup umur. Kita akan bertemu presiden.” katanya mengakhiri pembicaraan. “Presiden ?”

bersambung . . .

Catatan : ITA (Information Technology Agency) lembaga spionase yang paling berpengaruh di Indonesia Raya bahkan dunia baru yang telah tunduk pada teknologi informasi.

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 5:45 am

Ditulis dalam Petualangan

Hantu Muka Rata Part II : ATM BNI Depan Perpus Unibraw

with 5 comments

 

“Din, ini gimana ?” tanya Lita kepada Dini temannya satu kamar di kos-kos-an Watugong 19. “Yang jelas kamu memang harus transfer malam ini juga untuk biaya pengobatan adik kamu yang kecelakaan tadi sore di Jogja, kalau tidak adik kamu tidak bisa mendapatkan perawatan, baru besok pagi kita ke Jogja untuk melihat keadaanya di rumah sakit,” jawab Dini berusaha menenangkan sahabatnya. “Itu masalahnya, teman kos sekamar adik aku yang juga teman kuliahnya di Fisip UGM punyanya hanya ATM BNI. Sama dengan kita, Kartu mahasiswa sekaligus ATM, dasar pendidikan kapitalis !”, gerutu Lita yang walaupun keadaan genting tetap saja naluri “pemberontak” dari jiwa aktivisnya muncul. ”Berarti kan tidak ada masalah ? ATM teman adikmu satu bank dengan ATM kita. Maaf, apa doku kamu nge-pres ? aku ada kok !” kata Dini. “Gak, aku ada uang kok, masalahnya hanya ada 2 ATM BNI yang dekat dari sini, pertama ATM BNI di Soekarno Hatta, berarti masih jauh juga kan kalau jalan kaki dari sini ? dan yang kedua kamu tahu sendiri ATM BNI di depan perpus pusat.” jelas Lita.

Seketika wajah Dini pucat masam. Ya, semua tahu dengan kabar burung hantu muka rata di ATM BNI di depan perpus. “Gimana ?” tanya Lita membuyarkan lamunan Dini yang membayangkan cerita-cerita seram teman-temannya angkatan 1994 FIA Unibraw perihal si hantu muka rata ini. Ketakutannya bertambah ketika membayangkan harus melintasi jalan-jalan kampus yang lengang apalagi pada jam 10 malam seperti sekarang ini. Ditambah lagi di kanan-kirinya pepohonan yang rimbun. ”Hm, apa boleh buat, kita ke ATM BNI depan perpus aja.” tegas Dini. “Kamu yakin ?” tanya Lita. “Ya . . .,” jawab Dini sambil mengangguk namun ragu.

Maka berangkatlah mereka berdua dengan perasaan yang masih diliputi kegalauan karena adik Lita yang tertimpa musibah kecelakaan walaupun menurut temanya tidak parah. Ada juga desiran rasa takut bila kulit mereka merasakan tiupan dingin angin malam musim kemarau kota Malang. Bulu kuduk mereka berdiri ketika melihat banyangan pepohonan yang terkadang terlihat seprti kelebat hantu. Dini berusaha menggengam tangan sahabatnya dengan harapan sahabatnya tidak takut dan berjuang menenangkan hati demi adiknya walaupun Dini sendiri sebenarnya juga tidak bisa lepas dari lamunannya tentang si hantu muka rata.

“Gedebuk !” suara aneh datang dari sisi belakang fakultas Kedokteran yang diiringi dengan sekelebatan bayangan hitam. Hampir saja kedua teman akrab ini mengambil langkah seribu. Ruang belakang fakultas Kedokteran dekat garasi mobil universitas konon dipakai sebagai ruang penyimpanan mayat yang akan digunakan untuk praktek bedah anak-anak kedokteran. Banyak mahasiswa yang menemui fenomena ganjil bila melintas di daerah ini pada malam hari terutama anak-anak kedokteran dan MIPA.

Dengan tetap menguatkan tekad, keduanya berjalan cepat ke depan perpus pusat. Sesampainya di depan ATM BNI, keduanya harus menunggu karena ada cewek yang rupanya butuh ke ATM juga malam-malam begini. “Mungkin dia juga dalam keadaan darurat kayak kita,” kata Dini kepada Lita. Selang 5 menit cewek ini tidak kunjung keluar juga dari ATM. “Jangan-jangan ….?” bisik Lita pada sahabatnya. “Gak mungkin, kakinya menginjak tanah dan masak hantu pakai jeans ?” sergah Dini. Lita-pun tersenyum.

Untuk mencairkan suasana kedua sahabat ini berusaha ngobrol perihal adiknya Lita. Selang tak seberapa lama, cewek tadi keluar dan mengomel, “Sialan !” Mendengar umpatan ini, secara refleks Dini manyahutinya, ”Kenapa mbak ? ATM-nya rusak ?” ”Gak, cuma . . .” kata cewek ini sambil berbalik dan menyibak rambutnya. Seperti disihir Dini dan Lita terpaku dengan air muka ketakutan.

“Kenapa ? dia hantu muka rata ?” tanya Nadhir penasaran pada Ririn yang bercerita tentang teman satu kosnya Dini dan Lita ketika kami berkumpul di perpus jurusan untuk membahas rencana membuktikan keberadaan hantu muka rata yang konon sering muncul di ATM BNI di depan perpus pusat. “Ya, beruntung aku tidak mereka ajak waktu itu.” jawab Ririn yang merinding bila mengingat cerita kedua temannya ini. “Oke, gimana ? nanti malam jadi kita membuktikan keberadaan si hantu muka rata ini malam nanti ?” kataku kepada ketiga temanku yang di Fisika lebih dikenal sebagai ”Geng Fisika Teori” : Nadhir, Yosi dan Ririn. “Tetap jadi dong, siapa takut ?” sergah Yosi.

“Sip kalau begitu begini persiapannya ….., tapi sebentar, bukankah hantu muka rata yang di IKIP itu laki-laki, lalu pindah ke ATM BNI di depan perpus kok berubah jadi cewek ?” tanyaku penasaran. Semua menggeleng. “Oke, kita buktikan aja nanti malam,” celetuk Yosi.

bersambung . . .

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 5:40 am

Ditulis dalam Misteri

Hantu Muka Rata Part I : IKIP Negeri Malang

with 7 comments

 

Malam itu begitu sunyi. Seorang mahasiswi IKIP Negeri Malang berjalan tergesa-gesa menyusuri lorong Asrama Putri kampus yang senyap. Tak ada suara lain yang bisa didengarnya kecuali langkahnya sendiri. Terhenyak dia mendengar ada suara pria yang menyapanya dari belakang : “Baru pulang dari rental komputer ya mbak ?” “Iya, jawab dia sekenanya.” Mahasiswi ini bermaksud menoleh ke arah datangnya suara untuk mengetahui siapakah gerangan laki-laki yang menyapanya pada jam 11 malam, di Asrama Putri lagi. Namun begitu dia menoleh, betapa terkejutnya dia, seolah berhenti detak jantungnya. Orang yang menyapanya ternyata laki-laki dengan pakaian hitam tanpa muka alias muka rata. Kedua kakinya seolah terhunjam ke perut bumi. Untuk beberapa saat dia hanya bisa mematung dan tak bisa menyadari apa yang terjadi.

Begitu kesadarannya mulai kembali, sekuat tenaga dia berlari menuju kamarnya. Tepat di depan kamarnya dia bertemu dengan Pak Karjo. Walaupun dari belakang, namun dia yakin sekali kalau laki-laki itu adalah Pak Karjo penjaga malam kampus ini. Pada jam-jam tengah malam, Pak Karjo melakukan ronda keliling area kampus tidak terkecuali Asrama Putri. Untuk sejenak ketenangan mulai dapat dirasakannya. Sambil mengatur nafas dia menyapa Pak Karjo : “Ronda pak ?” “Iya neng, ada apa kok berlari-lari seperti dikejar-kejar setan ?” “Aku tadi bertemu dengan pria, namun ternyata mukanya rata, aku kira dia hantu atau mungkin aku berhalusinasi karena ke-cape-an habis nge-tik skripsi”, jawabnya. Bayangan Pak Karjo mulai berjalan mendekatinya, dari temaram lorong Asrama Putri, mulai muncullah bayangan Pak Karjo yang berperawakan tinggi besar, “Apa seperti ini, neng ?”. Menjeritlah mahasiswi ini, yang kontan membangunkan segenap penghuni Asrama Putri.

Inilah kisah seram yang diceritakan oleh Ririn kepadaku dan teman satu gengku yaitu Nadhir dan Yosi saat ngumpul di Perputakaan Unibraw. Kami memang sekelompok mahasiswa Jurusan Fisika yang sangat berminat di bidang Fisika Teori. Oh..ya, namaku Sakti. Aku adalah ketua geng ini. Kami memang sangat demen kumpul di perpus. Di tempat inilah kami bisa dapat referensi buku Fisika Teori yang memang susah ditemukan di perpustaakan Jurusan Fisika maupun Fakultas MIPA. Kami mahasiswa Fisika Angkatan ‘94. Kalau sudah kumpul di perpus pusat, kami berempat bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk sekedar baca buku atau asyik mendiskusikan masalah-masalah Fisika Teori.

“Kalian percaya hantu ?” tiba-tiba Yosi menanyakan sesuatu yang tak terduga oleh kami semua. “Itu hanya fenomena Quantum beda dimensi”, jawabku sekenanya. “Aku percaya, hantu adalah bagian dari yang ghoib yang harus kita imani.”, jawab Nadhir yang memang di antara kami berempat dia yang paling kuat agamanya. “Klo kamu, Rin ?”, tanya Yosi kepada Ririn yang paling penakut di antara kami karena memang dia satu-satunya cewek. “Aku rasa hanya halusinasi, psikologis !”, jawab Ririn yang segera ditimpali oleh Nadhir, ”Dasar penakut !”

“Ngomong-ngomong, aku pernah dengar cerita ini 3 yahun yang lalu, sewaktu kita masih mahasiswa baru”, kataku melanjutkan obrolan yang mulai gayeng. “Ini memang kisah tiga tahun yang lalu”, jawab Ririn. “Kalian tahu nggak, klo sekarang hantu muka rata itu sekarang sudah pindah ke ATM di depan perpus pusat ini ?”, kata Ririn yang membuat kami bertiga terhenyak. “Berarti di sini ?”, tanya Yosi dengan gelisah, karena memang kami sedang ngobrol di bangku tunggu di depan perpus pusat, tepat di sebalah timur ATM yang dibicarakan. “Sumpah loe, kamu serius, Rin ?”, tanyaku yang hampir mirip terdengar seperti membentak. Ririn mengangguk dan kami semua terdiam. Walaupun belum malam, ini jam 7 malam yang berarti sebentar lagi perpus akan tutup.

“Kalian belum pulang ?” tanya Pak Alim, tukang bersih-bersih perpus yang mulai menyapu teras perpus seperti kebiasaanya menjelang perpus tutup. “Iya pak, bentar lagi kami juga mau pulang”,jawabku sekenanya.

Sesampainya di kost Ririn, kami melanjutkan diskusi yang tadi terputus. “Bagaimana klo kita coba buktikan keberadaan Hantu Muka Rata ini ?”, celetuk Nadhir. “Kamu gila ya ? cari perkara saja”, timpal Ririn kesal. “Aku serius, gimana ?”, jawab Nadhir yang diiringi ajakan menempuh bahaya. Sejenak kami terdiam, hanyut pada pikiran masing-masing. Namun tak berapa lama kemudian Yosi berkata : “Aku mau !” Cepat-cepat aku menimpali “Aku juga !” “Bagaimana dengan kamu, Rin ?”, tanya Nadhir membuyarkan lamunan Ririn. “Okelah aku ikut.”, jawab Ririn agak terpaksa. “Baiklah sekarang kita pulang ke kost masing-masing, besok seusai kuliah Teori Relativitas Umum, kita ngobrol lagi tentang persiapan kita. Tempat berkumpul di perpus jurusan, bagaimana ?”, kataku mengakhiri pembicaraan di kost Ririn. Semua mengangguk setuju.

bersambung . . .

Dedicated for Light Intermutimedia
Perusahaan Software Pulsa

Written by handarusakti

Agustus 12, 2007 at 5:23 am

Ditulis dalam Misteri